UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SUMBER
DAYA MANUSIA (SDM) DALAM MENUNJANG EFEKTIFITAS KERJA PEGAWAI PADA KANTOR
KECAMATAN KADATUA KABUPATEN BUTON
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pengembangan SDM berhubungan erat
dengan usaha peningkatan taraf hidup manusia itu sendiri, terutama pada era
globalisasi pada saat ini, sehingga usaha pembinaan, pengembangan, dan
pemanfaatan potensi SDM dapat ditingkatkan melalui beberpa sektor pembangunan
yang tanggu, cakap, terampil percaya
pada diri sendiri dan besemangat membangun
Tujuan peningkatan SDM pada
hakekatnya diarahkan untuk merubah sumber daya manusia yang potensial menjadi
tenaga kerja yang produktif. Dalam usaha meningkatkan tenaga kerja yang
produktif, diperlukan jenjang pendidikan dan latihan secara bertahap dari
kempuan teknis ditingkatkan kearah kempuan manajerial, diusahakan untuk
meningkatkan derajat kesejahteraan maupun diarahkan pada menyiapkan
tenaga-tenaga yang mampu menerima ahli teknologi . kesemuanya ini diperlukan
agar SDM yang cukup besar tidak akan menjadi beban (liabilities), tetapi mampu
dikembangkan menjadi modal dasar (assets) bagi proses pembangunan yang akan
dilaksanakan.
Peningkatan SDM dimaksud untuk
meningkatkan keterampilan atau kemampuan kerja manusia dalam melakukan berbagai
macam kegiatan dalam masyarakat. Pemanfaatan SDM tertentu berbeda dengan sumber
daya yang lain. Untuk dapat memanfaatkan SDM secara optimum, salah satu aspek
yang perlu diperhatikan adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan
pembinaan dan pengembangannya.
Upaya peningkatan SDM dimaksud untuk
meningkatkan keterampilan dan kemampuan manusia dalam melakukan berbagai
kegiatan dalam organisasi. Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu faktor
yang penting dalam peningkatan SDM, pendidikan dan pelatihan tidak saja
menambah pengetahuan akan tetapi juga meningkatkan kemampuan dan keterampilan
kerja, demikian juga dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi kerja.
Pelaksanaan pembinaan SDM
dilingkungan Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton masih relatif kurang, hal
ini terjadi karena pemberian, pendidikan dan pelatihan Diklat kepada para
pegawai sebagai salah satu upaya pengembanga SDM masih jarang dilakukan. Beberapa
tahun terakhir ini masih jarang dilakukan. Beberapa tahun terakhir ini semakin
jarang pegawai kantor Kecamatan Kadatua yang mengikuti diklat sehingga
menyebabkan rendahnya efektifitas kerja pegawai seperti penyelesaian pekerjaan
tidak tepat waktu, kurangnya motivasi pegawai dalam melaksanakan tugas
keseharianya dalam organisasi. Kantor Kecamatan Kadatua diketahui bahwa pegawai
yang mengikuti diklat selama kurung waktu 2009-2012 hanya mencangkup 3 orang
pegawai saja. Berikut disajikan data Pegawai Kecamatan Kadatua yang mengikuti
diklat dalam kurung waktu 2009-2012
Tabel.
Data pegawai Kantor Kecamatan Kadatua yang mengikuti diklat
|
No
|
Jenis
diklat
|
Tahun
|
Jumlah
(orang)
|
|
1.
2.
|
Diklat Perjenjangan/struktural
Diklat teknis
|
2009-2010
2011-2012
|
1
2
|
Sumber : Kantor Kecamatan kadatua 2012
Pengembangan
sumber daya manusia pegawai kantor kecamatan Kadatua melalui pemberian diklat
kepada para pegawai masih kurang, sehinnga berimbas pada rendahnya efektifitas
kerja pegawai, padahal tujuan utama pengembangan SDM adalah untuk meningkatkan
Kinerja Pegawai sehingga tercipta efektifitas dalam pelaksanaan tugas.
Rendahnya
SDM hampir dialami oleh seluruh organisasi pemerintah termaksud di lingkungan Kantor
Kecamatan Kadatua. Pendapat tersebut didasarkan atas pengamatan penulis yang
menunjukan adanya penurunan kinerja pegawai yang ditinjau dari pemborosan
terahadap aspek waktu dan tenaga dalam hal ini kurangnya disiplin kerja masih
relative tinggi, penyelesaian pekerjaan kurang tepat waktu. Hal tersebut sesuai
dengan hasil wawancara dengan kepala Kecamatan Kadatua bahwa pengenbangan
Sumber Daya Manusia di Kecamatan Kadatua melalui pemberian diklat kepada para
pegawai masih kurang, sehingga terjadi penurunan terhadap kinerja pegawai. Hal
ini disadari karena terbentur pada pendanaan.
Kondisi SDM pada kantor kecamatan
Kadatua tentunya akan berdampak pada pelayanan masyarakat. Rendahnya SDM
seperti yang diuraikan diatas akan berdampak pada rendahnya pencapaian efektifitas
kerja pegawai pada kantor kecamatan kadatua.
Uraian
tersebut diatas menunjukan bahwa SDM memiliki peran yang sangat penting dalam
kehidupan organisasi, baik organisasi pemerintah maupun organisasi perusahaan
swastw. Dalam hal ini kantor Kecamatan Kadatua memerlukan pegawai yang cakap
dan terampil serta mampu bekerja sama dalam mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan dalam organisasi guna memudahkan manajemen untuk mengendalikan dan
mengarahkan karyawan atau pegawainya dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
Menyadari akan pentingnya kedudukan
dan potensi serta pemanfaatan dan pendayagunaan pegawai, maka upaya yang
dikembangkan oleh pihak kantor Kecamatan Kadatua antara lain memberikan
kesempatan kepada pegawainya untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang tersebut diatas maka permasalahan yang diangkat dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana
upaya peningkatan kemampuan SDM aparat dalam menunjang efektifitas kerja
pegawai pada kantor kecamatan kadatua
2. Faktor-faktor
apa yang mempengaruhi upaya peningkatan kemampuan SDM dalam menunjang
efektifitas kerja pegawai pada kantor Kecamatan Kadatua.
C.
TUJUAN
DAN MANFAAT PENELITIAN
1. Tujuan
penelitian ini adaloah sebagai berikut :
a. Untuk
mengetahui upaya peningkatan kemampuan SDM dalam menunjang efektifitas kerja
pegawai pada kantor Kecamatan Kadatua.
b. Untuk
mengetahui faktor-faktoryang mempengaruhi upaya peningkatan kemampuan SDM dalam
menunjang efektifitas kerja pada kantor kecamatan Kadatua.
2. Manfaat
dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Sebagai
sumbangan ilmia dalam pengembangan konsep dan teori dibidang Manajemen Sumber
Daya Manusia (SDM), yang berkaitan dengan komitmen dan kinerja pelayan publik.
b. Bagi
pimpinan kantor Kecamatan Kadatua, dapat menjadi masukan dalam meningkatkan
efektifitas pelayanan public melalui perbaikan system pendidikan dan pelatihan
pegawai
c. Bagi
peneliti lain, ini dapat menjadi acuan ataupun bahan perbandingan dalam
mengkaji masalah efektifitas kerja.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Konsep Kemampuan Sumber Daya
Manusia
Setiap
organisasi memiliki asset yang pada dasarnya dapat digolongkan dalam 3”M”,
yaitu : Man, Money dan Material. Dari ketiga unsure M tersebut, M pertama yaitu
manusia merupakan asset yang paling penting dan menentukan, karwna nilai kedua
M lainya sangat tergantung pemanfaatanya oleh manusia sebagai pelaku aktif
dalam organisasi (Amosoepraptop, 2001 : 30 ).
Menurut
yudo swasono (1993:19), pengertian sumber daya manusia (human resources) adalah seluruh kegiatan produktif dan potensi yang
dapat disumbangkan oleh penduduk. Dalam penelitian ini sumber daya manusia
menunjuk pada pegawai yang ada pada kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton.
Sesuai tugas pokok dan fungsinya untuk memberikan pelayanan publik maka pegawai
diharapkan menyumbangkan kegiatan produktif dan potensi yang dimilikinya.
Menurut
Husen Umar (1999:13) mengemukakan bahwa aspek-aspek kualitas sumber daya
manusia yang memerlukan perhatian serius dalam setiap organisasi adalah:
penguasaan keterampilan dan teknis pelaksanaan kerja, pengetahuan keilmuan,
sikap dan kepribadian.
Menurut
Buchari Zainul (1992:48), pegawai yang berkualitas dalam arti sebenarnya adalah
bahwa kerja yang dikerjakannya menghasilkan sesuatu yang memang dikehendaki
dari pekerjaan tersebut. Berkualitas bukan hanya pandai tetapi memenuhi semua
syarat kualitas yang dituntut pekerjaan itu sehingga benar-benar dapat
diselesaikan menurut ukuran yang dikehendaki dari setiap pegawai adalah
kemampuan atau kecakapan, keterampilan, kepribadian, sikap dan orientasi.
Menurut
moekijat (1987:3) mengemukakan bahwa ada tiga unsur kualitas yang perlu
dikembangkan dari setiap pegawai yaitu:
1. Keahlian,
agar supaya pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif.
2. Pengetahuan,
agar supaya pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.
3. Sikap,
agar supaya timbul kemauan kerja sama dengan teman-teman dengan pimpinannya.
Berdasarkan
teori-teori dan konsep-konsep di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan
sumber daya manusia sebaiknya mencakup aspek-aspek:
1. Kemampuan
(kopetensi)
2. Kemauan
(motifasi)
3. Energi
fisik (kesegaran jasmani, kesehatan, dan daya tahan fisik)
Menurut
Gibson dkk (1996:127) pengertian kemampuan adalah sifat bawaan yang bisa
dipelajari yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu baik yang bersifat
mental maupun fisik. Gibson dkk (1996:127) menjelaskan pula bahwa pengertian
kemampuan dan keterampilan dapat saling diperlukan. Keterampilan adalah
kemampuan yang berhubungan dengan tugas, seperti keterampilan mengoperasikan
computer, atau keterampilan berkomunikasi dengan jelas.
Aktifitas
mental antara lain mengamati, menanggapi, mengingat, berimajinasi, merasa, dan
berfikir. Sedangkan aktifitas fisik antara lain: mengangkat atau menurunkan dan
memindahkan sesuatu benda, memecahkan atau mematahkan sesuatu benda (Patty dkk
1987:86)
Atmosoeprapto
(2001:37) mengemukakan bahwa kemampuan sumber daya manusia meliputi: kemampuan
teknik, kemampuan hubungan antar pribadi dan kemampuan konseptual.
Kemampuan
teknik adalah kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan, metode, teknik dan alat
yang diperoleh melalui pengalaman, pendidikan dan latihan, untuk melakukan
tugas-tugas khusus. Kemampuan hubungan antar pribadi adalah kemampuan menilai
orang-orang dan kemampuan bekerja bersama orang. Sedangkan kemampuan konseptual
adalah keamampuan mengatahui kekompakan organisasi secara keseluruhan dan
peranan dirinya dalam organisasi, bukan sekedar berdasarkan pada sasaran dan
kebutuhan dari kelompoknya sendiri Atmosoeprapto (2001:38-39)
Kemampuan
mental haruslah diimbangi dengan kemampuan fisik. Menurut Lim (2002:38), orang
yang sakit-sakitan atau lemah fisik akan sulit menerima dan melaksanakan
tanggung jawab pekerjaan yang besar. Sukses tida bisa dilepaskan dari
ketersediaan energi fisik. Sekalipun kita mempunyai ambisi, kepercayaan diri
dan strategis yang jitu, namun jika tidak ada kemampuan bertindak, semuanya
hanya menjadi mimpi belaka. Karena itu, pelihara kondisi kesehatan dan kekuatan
fisik melalui pola hidup sehat, agar anda layak dan mampu mengemban tugas dan
tanggung jawab yang besar.
B.
Upaya
Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia
Peningkatan
kemampuan sumber daya manusia merupakan salah satu aspek dari pengembangan
sumber daya manusia, sedangkan sumber daya manusia adalah salah satu bagian
dari mmanajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia mempunyai
dua fungsi pokok, yaitu:
(1) Fungsi
manajerial, dan
(2) Fungsi
operasional.
Fungsi
manajerial mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian.
Sedangkan fungsi operasional mencakup pengalaman, pengembangan, kompensasi,
pengintegrasikan, pemeliharaan dan pemutuhan hubungan kerja (Husen Umar,
1999:3).
Berdasarkan
sistematika di ats, maka pemahaman tentang upaya peningkatan kemampuan sumber
daya manusia tidak dapat dilepaskan dari konsep pengembangan sumber daya
manusia.
Berkaitan
masalah pengembangan Sumber Daya Manusia, para penulis menggunakan istilah yang
berbeda-beda. Soeprihanto (1989:43) menggunakan istilah “latihan dan
pengembangan”. (Siagian 1987:172) serta Manullang. M dan AMH Manulang (2001:66)
menggunakan istilah “latihan dan pendidikan”. Namun demikan, penekanannya sama,
yaitu bagaimana mengubah potensi yang terdapat dalam diri seseorang menjadi
kemampuan berpikir dan bekerja.
Nedle
dalan Swasto (2003:2) mengemukakan bahwa pengembangan sumber daya manusia
sebagai pengalaman belajar yang di organisir pada periode waktu tertentu untuk
menentukan kemungkinan perubahan kinerja, atau secara umum meningkat kemampuan
individi. Selanjutnya Nedler mengemukakan bahwa pengembangan itu direncanakan
untuk membantu para individu meningkat, dengan melalui belajar secara umum. Ini
berkaitan dengan organisasi maupun individu.
Berkaitan
dengan individu, dari peningkatan kemampuan sumber daya manusia itu diharapkan
adanya perkembangan dan perubahan kinerja mereka dalam periode waktu yang
tertentu.
Selanjutnya,
Notoatmodjo (2003:3) membagi pengertian peningkatan suber daya manusia atas dua
yaitu:
1. Secara
Makro
Merupakan suatu
proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam rangka mencapai tujuan
pembangunan bangsa. Proses peningkatan
disini mencakup perencanaan , peningkatan dan pengelolaan sumber daya manusia.
2. Secara
Makro
Merupakan suatu
proses perencanaan pendidikan, pelatihan
dan pengelolaan tenaga dan karyawan untuk mencapai suatu optimal. Hasil ini
dapat berupa jasa maupun benda atau uang.
Louis Emmerij (dikutip dalam Haq dan
Kirdar, 1988) dalam Tadjuddin (1995:5) merumuskan pengembangan sumber daya
manusia merupakan:L a) Kreasi sumber daya manusia, b) pengembangan dan c)
menyusun struktur insentif (upah) sesuai
dengan peluang kerja yang ada. Pengertian ini mengandung upaya untuk
memproduksi sumber daya manusia yang berkualitas (terampil dan cerdas) melalui
pendidikan formal dan latihan dan pemanfaatan sumber daya tersebut. Aspek lain
yang terkandung dalam pengertian ini adalah penyusunan struktur insentif
(upah).
Swasto (2003:74) mengemukakan
bnetuk-bentuk pengembangan sumber daya manusia sebagai berikut:
1. Pendidikan
dan Latihan
Pendidikan di
desain untuk memungkinkan pekerja belajar tentang pekerjaan yang berbeda di
dalam organisasi yang sma. Latihan dikaitkan dengan pekerjaan sekarang.
Diharapkan suatu organisasi menyelenggarakan belajar yang berkaitan dengan
pekerjaan sekarang dalam usaha peningkatan kemampuan kerja.
2. Pengalaman
Kerja
Pengalaman kerja
adalah banyak macam pekerjaan dan lama kerja untuk masing-masing pekerjaan yang
pernah di duduki.
Asumsi utama
pengembangan sumber daya manusia menurut siagian (1987 : 18-19) yaitu bahwa
manusia adalah mahluk social sekaligus mahluk indi9vidu dengan ciri khas
tersendiri. Manusia dapat menjadi modal yang teramat berharga bagi orgaisasi tetapi
dapat pula unsur perusak yang efektif. Disatu pihak ia dapat bertindak
altruistik (mempertimbangkan kebaikan bersama), dilain pihak dapat pula
bertindak egoistik ( mengutamakan kebaikan diri sendiri). Melalui pengembangan,
sifat-sifat positif dari manusia itu dapat ditonjolkan, dan sekaligus merupakan
usaha sadar untuk menghilangkan atau mengurangi sifat-sifat negative yang ada
dalam diri manusia.
Menurut Husen
Umar (1999:12) mengemukakan bahwa pengembangan menyangkut banyak aspek seperti
: peningkatan dalam keilmuan, pengetahuan, kemampuan, sikap dan kepribadian.
Perlunya dilakukan pengembangan disebabkan karena berbagai faktor antara lain :
perubahan teknologi, perubahan pekerjaan (pola baru pekerjaan), perubahan
peeratuarn hukum, perkembangan ekonomi, tekanan pasar, kebijakan social
aspirasi pegawai dan variasi kerja.
Dahlan (1992 :
4) mengemukakan bahwa peningkatan sumber daya manusia tidak terlepas dari
peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Mengemukakan bahwa
kualitas manusia terdiri dari atas dua kelompok, yaitu :
1. Kualitas
fisik, mencangkup : kegaran jasmani, kesehatan serta daya taha fisik yang
memungkinkan manusia melakukan kegiatan yang produktif.
2. Kyalitas
non-fisik, mencangkup : kualitas kepribadian, kualitas bermasyarakat, kualitas
berbangsa, kualitas spiritual wawasan lingkungan, dan kualitas kekaryaan.
Kualitas fisik
dapat ditingkatkan melalui latihan fisik dan pemenuhan kebutuhan fisiologis
(makan, minum, udara, abat-obatan) dalam jumlah dan kualitas yang memadai
sesuai kebutuhan. Sedangkan kualitas non fisik memerlukan penanganan yang multi
dimensi dan sistematis (dahlan, 1992 : 4).
Silalahi, T.B
(1998:53-54) mengemukakan bahwa untuk meningkatkanprofesinalisme para aparatur
perlu dilihat dari proses pengadaan, pembinanaan, hingga pension. Masalah
pengadaan atau redkrutmen merupakan masalah yang sangat vital. Bila proses
rekrutmen berjalan dengan baik, secara teoritis akan dapat dijaring calon-calon
pegawai yang tidak memenuhi syarat. Proses pembinaan pegawai mencangkup
pembinaan karier, pendidikan dan latihan dan peningkatan kesejahteraan.
Buchari Zainun
mengemukakan bahwa peningkatan kualitas dimaksudkan untuk berbagai keperluan
serperti :
1. Menyiapkan
seseorang agar pada saatnya diberi tugas tertu yang belum tahu secara khusus
apa tugas itu dengan harapan akan mampu bila mana diserahi tugas yang sesuai.
2. Memperbaiki
kondisi seseorang yang sudah diberi tugas dan sedang menghadapi tugas tertentu
yang merasa ada kekurangan pada dirinya untuk mengemban tugas itu sebagaimana
mestinya.
3. Mempersiapkan
seseorang untuk diberi tugas tertentu yang sudah pasti, yang syarat-syaratnya
lebih berat dari tugas yang dikerjakan sendiri.
4. Melengkapi
seseorang dengan hal-hal apapun yang mungkin timbul diseputar tugasnya baik
yang langsung maupun yang tifdak lansung berpengaruh terhadap pelaksanaan
tugasnya.
5. Menyesuaikan
kepada seseorang tugas-tugas yang mengalami perubahan karena perubahanya
syarat-syarat untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan itu secara sebagian atau
seluruhnya.
6. Menambah
keyakinan dan percaya diri kepada seseorang bahwa dia adalah orang yang
benar-benar cocok untuk tugas sedang diembannya.
7. Meningkatkan
wibawa seseorang dari pandangan bawahan maupun orang lain baik teman sejawat
maupun para relasinnya.
Menurut
Lim (2002:38) kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang baik
dan cara yang benar diperoleh dari proses belajar maupun pengalaman. Sedangkan
kemampuan fisik dipelihara melalui pola hidup sehat dan konsumsi nutrisi yang
seimbang.
Metode
umum yang digunakan untuk melakukan pengembangan sumber daya manusia adalah
pendidikan dan pelatihan (Siagian, 1987 :172; Manullang. M dan AMH Manulang,
2001:66)
Pendidikan
adalah keseluruhan proses, tekhik dan metode belajar mengajar dalam rangka
mengalihkan sesuatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain. Sedangkan
latihan adalah proses untuk membentuk, meningkatkan dan mengubah pengetahuan,
keterampilan, sikap dan tingka laku agar dapat mencapai standar tertentu
(syarif, 1991:12)
Pendapat
yang hamper sama dikemukakan oleh Jhon Soeprihanto (1989:47). Menurut
Soeprihanto, pendidikan adalah kegiatan untuk memperbaiki kemampuan seseorang
karyawan dengan cara meningkatkan pengetauhuanya umumnya. Latihan adalah suatu
kegiatan untuk memperbaiki kemampuan dan keterampilan seseorang karyawan dalam
menjalankan suatu pekerjaan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa latihan tidak dapat
dibedakan secafra tegas dari pendidikan :
(1) Diklat
ditempat kerja (on-the job training),
tekniknya adalah :
a) Demonstrasi
(praktek penyelesaian sesuatu)
b) Mengerjakan
sendiri
c) Rotasi
(perputaran) kerja
d) Bacaan
selektif
e) Penugasan
dalam bentuk panitia
f) Magang
g) Briefing
(2) Diklat
diluar tempat kerja (off-the job
training), tekniknya adalah :
a) Ceramah
b) Studi
kasus
c) Permainan
peran
d) Diskusi
kelompok
e) Kaji
tindak
f) Simulasi
g) Kursus,
penataran
h) Sekolah
format (tugas pelajar)
i)
Pertemuan khusus (Umar, 1999: 13-14 ;
Soeprihanto, 1989:49).
Upaya- upaya
tersebut perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan keahlian dan
keterampilan kerja pegawai
Berdasarkan atas
konsep atau pengertian diatas menunjukkan bahwa peningkatan sumber daya manusia
ialah upaya untuk meningkatkan kemampuan manusia dengan memberikan kesempatan
kerja yang seluas-luasnya kepada pegawai untuk mendapatkan pendidikan dan
pelatihan yang cukup bagi seluruh pegawai harus menjadi focus bagi organisasi,
dengan demikian peningkatan sumber daya manusia mencakup pengendalian,
pengembangan dan pemanfaatan sumber daya manusia itu sendiri.
Secara
konseptual oleh Soekidjo Notoatmodjo (2003 : 28) pendidikan dan pelatihan
adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk
mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Penggunaan istilah
pendidikan dan pelatihan dalam suatu institusi atau organisasi biasanya
disatukan menjadi diklat (pendidikan dan pelatihan). Unit yang menangani
pendidikan dan pelatihan pegawai atau karyawan lazim disebut pusdiklat (pusat
pendidikan dan pelatihan).
Tujuan
pendidikan dan pelatihan untuk para pegawai atau karyawan diarahkan untuk
membina kemampuan dan keterampilan kerja sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing, atau dengan kata lain
pendidikan dan pelatihan bagi pegawai atau karyawan adalah untuk meningkatkan
pengabdian, keahlian dan keterampilan serta menciptakan pola pikir, sikap dan
perilaku yang sama dengan mengembangkan metode-metode kerja yang baik.
C.
Konsep
Efektifitas Pegawai
Kata efektifitas
berasal dari kata efektif (Gibson dkk, 1992). Pengertian kata efektif adalah
keadaan yang mengandung makna mengenai terjadi suatu efek atau akibat yang
dikehendaki (Nitisemito, 1992).
Pada dasarnya
masalah efektifitas adalah hal-hal yang berkenaan dengan keberhasilan suatu
organisasi mencapai produktivitas yang tinggi (Mulyadi, 1998). Dari pengertian
diatas dapat diketahui bahwa efektifitas organisasi berkaitan dengan prestasi
organisasi secara keseluruhan.
Batasan lain
dikemukakan bahwa efektifitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan
dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian, 1992). Sehubungan dengan
hal tersebut, hidayat (1985) menjelaskan pula bahwa efektifitas adalah ukuran
yang menyertakan seberapa jauh tingkat kualitas, kuntitas dalam waktu yang
telah dicapai.
Menurut Westra
dkk. (1982), efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian
mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau seseorang
melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendakinya,
maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat sebagaimana
dikehendaki. Menurut Dann Suganda (1992) memberikan pengertian istilah efektif
diterjemahkan berbagai guna, dapat mencapai sasaran atau dapat menghasilkan
sesuatu yang ditentukan. Sikap organisasi harus mampu mencapai sasaran termasuk
administrasi yang efektif, dapat berjalan atau dapat diterapkan dan berhasil
dengan baik. Efektifitas berarti keadaan berhasilnya mencapai sasaran yang
sungguh berguna, karena itulah efektifitas disebut pula berhasil guna.
Dengan demikian
dari konsep pemikiran diatas bahwa efektifitas mengandung arti manfaat yang
optimal sebagai hasil dari suatu proses. Dengan kata lain bahwa apa yang
dikerjakan atau apa yang dihasilkan tersebut mempunyai kualitas.
Etzioni (1985)
mengemukakan, efektifitas organisasi diukur dari tingkat sejauh mana ia
berhasil mencapai tujuannya. Siagian (2000) menyatakan bahwa efektifitas
biasanya diartikan sebagai tingkat output
yang sesungguhnya dari system yang bersangkutan dibandingkan dengan output yang diinginkan.
Salah satu
kritetia yang penting dalam administrasi Negara adalah efektifitas. Biasanya
istilah efektifitas ini digunakan bersamaan dengan efisiensi dan rasionalitas
(Handayaningrat, 1993 : 4). Kata efektifitas berasal dari kata efektif (Gibson
dkk, 1996 :29). Pengertian kata efektif adalah keadaan yang mengandung makna
mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki ( Alex S.
Nitisemito, 1992 : 207).
Efektifitas
kerja merupakan nilai dan keadaan yang ingin dicapai maka wujudkan oleh setiap
organisasi atau instansi pemerintah. Melalui efektifitas kerja maka setiap
organisasi dapat mempertahankan eksistensinya dengan melancarkan
operasi-operasinya. Jadi efektifitas kerja pada dasarnya adalah ketepatan dalam
pelaksanaan dan penyelesaian tugas sesuai waktu yang telah ditetapkan
sebelumnya dalam suatu organisasi bukan ukuran kuantitatifnya.
Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa untuk mencapai suatu tingkat efektifitas dalam proses
pencapaian tujuan dalam suatu organisasi baik itu organisasi pemerintah maupun
swasta sangatlah didukung oleh peralatan yang mana dari kemampuan dan
keterampilan serta loyalitas dari semua unsur yang terlibat dalam organisasi
yang bersangkutan, disamping itu suatu pekerjaan dikatakan efektif bila
tercapainya berbagai sasaran yang telah ditetapkan tepat pada waktunya dengan
menggunakan sumber-sumber tertentu yang dialokasikan untuk melakukan berbagai
kegiatan yang dimaksud.
The Liang Gie
(1993 : 19) mengatakan bahwa efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung
pengertian terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau orang
melakukan efektif apabila menimbulkan akibat atau mempunyai maksud sebagaimana
yang dikehendaki. The Liang Gie (2002 : 108) mengartikan efektifitas kerja
adalah penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditentukan atau
kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan
hasil guna yang diharapkan.
Hidayat dan
Sucherly (1986 : 87) mengemukakan bahwa efektifitas merupakan konsep pengukuran
yang memperbandingkan realisasi dengan target yang ingin dicapai. Semakin besar
rasio antara ralisasi dengan target, maka semakin tinggi tingkat efektifitasnya
pelayanan organisasi pemerintah.
Siagian S.P
(1987 : 14) menyatakan bahwa efektifitas biasanya diartikan sebagai tingkat output yang sesungguhnya dari system
yang bersangkutan dibandingkan dengan output
yang diinginkan.
Menurut Pariata
Westra, dkk (1989 : 108), efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung
pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau
seorang melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang
dikehendakinya, maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat
sebagaiman kehendaki.
Arturo Israel
(1992 : 15-16) menjelaskan bahwa organisasi dikatakan relative efektif kalau
memang mencapai tujuan yang benar, meskipun dengan biaya yang tinggi. Sedangkan
menurut Etizoni (1985 : 12), efektifitas organisasi diukur dari tingkat sejauh
mana ia berhasil mencapai tujuannya.
Gibson
(1996 : 29-30) mengidentifikasi 3
tingkat analisis efektivitas, yakni: individual, kelompok, dan organisasi.
Masing-masing tingkat efektivitas tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Efektivitas
individual menekankan pada kinerja tugas dari karyawan tertentu atau anggota
organisasi. Tugas yang harus dikerjakan merupakan bagian pekerjaan atau posisi
dalam organisasi. Manajer secara rutin menilai efektifitas individu melalui
proses efaluasi prestasi untuk menentukan siapa yang akan menerima kenaikan
gaji, promosi, dan balas jasa yang lain yang tersedia dalam organisasi.
Efektifitas
kelompok adalah jumlah skontribusi seluruh anggota. Sebagai contoh, sekelompok
ilmuwan bekerja sendiri pada pekerja yang tidak saling berkaitan akan menjadi
efektif kalau masing-masing ilmuwan tersebut efektif.
Efektifitas
organisasi terdiri dari efektifitas inidividu dan kelompok. Melalui efek
sinergi, organisasi mendapatkan tingkat efektifitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan penjumlahan bagian-bagiannya.
Istilah
efektifitas kerja menurut Westra, dkk. (1989 : 108), mempunyai pengertian
keadaan atau kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia
untuk memberikan guna yang diharapkan. Untuk menilai apakah tercapainya
efektifitas kerja, dipakai empat pertimbangan :
1. Pertimbangan-pertimbangan
ekonomi ; misalnya jumlah atau mutu asli.
2. Pertimbangan-pertimbangan
fisiologi ; misalnya akibat kerja terhadap kesehatan karyawan atau banyaknya
kecelakaan-kecelakaan jasmani.
3. Pertimbangan-pertimbangan
psikologi ; misalnya pengaruh kerja terhadap rasa letih, atau kepuasan karyawan
terhadap kerja itu.
4. Pertimbangan-pertimbangan
social ; misalnya kedudukan dalam masyarakat atau kebahagiaan dan penyesuaian
diri dalam kehidupan keluarga.
Pariata
Westra dkk. (1989 : 108) memberikan contoh bahwa apabila suatu kerja
menimbulkan gangguan pada tempat bidang yang dijadikan bahan pertimbangan itu,
misalnya seorang pejabat walaupun gajinya besar dan kedudukannya tinggi tapi
apabila terus- menerus harus bertugas ke luar kota sehingga kehidupan keluarganya tidak bahagia,
maka tidak dapat dikatakan bahwa telah tercapai efektifitas kerja.
Menurut
Handayaningrat (1993 : 7), efektifitas kerja adalah ketetapan dalam
melaksanakan suatu tugas menurut waktu yang telah ditentukan. Siagian (1988 :
151) mengemukakan bahwa efektifitas kerja berarti menyelesaikan pekerjaan tepat
pada waktunya yang telah ditetapkan.
Almasidi
dalam Emil (1996 : 96) mengemukakan bahwa efektifitas adalah ketetapan suatu
tindakan atau kesempurnaan (jaminan) hasil suatu pekerjaan itu sendiri.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa pengertian tersebut erat hubungannya dengan
sikap mental dan kualitas sumber daya manusia. Dengan kata lain, setiap
personel harus memiliki prinsip bahwa sertiap pekerjaan harus dapat
diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan dengan berbagai
penghematan pemakaian waktu, pemakaian bahan, dan dengan mengupayakan mutu dari
hasil pekerjaan. Penumbuhan etos kerja semacam ini diperlukan agar, selain
dapat meningkatkan efektifitas kerja, juga bisa merubah budaya kerja yang
mengarah bukan lagi pemenuhan kebutuhan pokok tetapi lebih mengarah pada
pencapaian efektifitas kerja yang mencapai hasil dalam pelaksanaan tugas dan
pekerjaan.
D. Kerangka Pikir
Kerangka pikir dalam penelitian ini, adalah
peningkatan pengetahuan dan keterampilan kerja dengan memberikan kesempatan
pegawai melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Peningkatan kemampuan
sumber daya manusia. Peningkatan kualitas sumber daya aparatur merupakan hal
yang paling diingikan oleh suatu organisasi, berbagai upaya dilakukan untuk
meningkatkan sumber daya aparaturnya karena aparatur yang berkualitas dapat
mengantarkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang diiginkan. Menurut
Siagian (1991 : 72) bahwa metode yang umum digunakan untuk mengembangkan sumber
daya manusia adalah melalui pendidikan dan pelatihan.
Efektifitas
kerja pegawai dalam penelitian ini merupakan suatu keadaan yang diiginkan
mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki dari suatu
perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan. Efektifitas kerja merupakan
perbandingan realisasi dengan target yang ingin dicapai. Untuk lebih jelasnya
penulis menggambarkan kerangka pikir dibawah ini :
Skema
1
Kerangka
Pikir
|
Upaya
Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia :
a.
Pendidikan
b.
Pelatihan dan Khursus
(Hasil
modifikasi dari berbagai sumber)
|
|
Efektifitas Kerja Pegawai :
a.
Tingkat Ketelitian Pegawai
b.
Tingkat Ketepatan Waktu
c.
Tingkat Pencapaian Sasaran Tugas
Bidang Pelayanan Administrasi
d.
Tingkat Penerapan Disiplin Kerja
(Hasil
modifikasi dari berbagai sumber)
|
.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Lokasi
penelitian ini yaitu pada kantor kecamatan Kadatua Kabupaten Buton dengan
pertimbangan terdapat indikasi belum maksimalnya tingkat efektifitas kerja
pegawai.
B. Populasi dan Sampel
Populasi dan
sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai negeri sipil pada Kantor Kecamatan
Kadatua yang berjumlah 15 orang. Oleh karena jumlah tersebut dapat dijangkau,
maka keseluruhan populasi dijadikan responden dalam penelitian ini jadi tidak
ditarik sampel sehingga seluruh populasi ini dijadikan responden. Untuk mendukung
data yang ada, maka dalam penelitian ini ditetapakan pula informan yaitu Camat dan
Sekcam pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton.
C.
Teknik
Pengumpulan Data
Adapun
metodedan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai
berikut :
1. Studi
Kepustakaan, merupakan data untuk memperoleh kajian teoritis melalui buku-buku,
literature, dokumen dan laporan yang ada hubungannya dengan permasalahan yang
diteliti.
2. Studi
Lapangan, merupakan pengumpulan data secara langsung pada lokasi dan objek
penelitian, yang dilaksanakan dengan teknik sebagai berikut :
a. Kuesioner
yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengedarkan pertanyaan tertulis
kepada para respoden.
b. Wawancara
yaitu melakukan Tanya jawab langsung dengan informan dalam penelitian ini
dengan menggunakan pedoman wawancara.
c. Dokumentasi
yaitu mengambil data yang telah didokumentasikan oleh pihak instansi terkait
dalam bentuk laporan.
D.
Teknik
Analisis Data
Dalam penelitian
ini dilakukan teknik analisis data secara deskriptif kualitatif yaitu data yang
dikumpulkan, dianalisis yang kemudian hasil dan pengolahannya akan dipaparkan
berdasarkan gambaran ataupun penjelasan secara sistematis sesuai dengan
permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.
E.
Definisi
Operasional
Upaya
peningkatan SDM didefinisikan sebagai upaya terencana yang dilakukan oleh
kantor Kecamatan Kadatua untuk meningkatkan kapasitas pegawai dalam
melaksanakan pekerjaan dalam bentuk :
(1) Pendidikan,
Pendidkan
yang dimaksud, ialah kemampuan proses, teknik dan metode belajar mengajar lam
rangka mengahlikan sesuatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain.
(2) Pelatihan,
Pelatihan yang
dimaksud adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan
pegawai dengan menjalankan pelajaran dan pemahaman sesuaikan bidang
pekerjaannya.
Efektifitas
kerja didefinisikan sebagai penyelesaian pekerjaan secara tepat waktu yang
diukur dari :
(1) Tingkat
ketelitian pegawai
Tingkat ketelitian
pegawai yang dimaksud adalah, kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas tampa
ada kesalahan-kesalahan.
(2) Tingkat
pencapaian sasaran tugas bidang pelayanan administrasi yang dimaksud adalah
kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas-tugas untuk mencapai target yang
telah ditentukan, sehingga para pegawai dapat melaksanakan tugas dngan baik.
(3) Tingkat
ketepatan waktu
Tinkat ketepatan waktu
yang dimaksud adalah penerapan disiplin pegawai menyelesaikan tugas sesuai
waktu yang telah ditetapkan sehingga tidak ada tunggakan kerja.
(4) Tingkat
penerapan disiplin kerja
Tingkat penerapan
disiplin kerja yang dimaksud adlah penerapan disiplin kerja melalui kedisplinan
peraturan kedinasan dan perintah atasan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Singkat
Sebagai wilayah
Pemerintahan Kabupaten Buton, Sejarah Kecamatan Kadatua tidak terlepas dari
sejarah terbentuknya Kabupaten Buton. Pada
saat awal terbetuknya Kabupaten Buton, Kecamatan Kadatua masih bergabung dengan
Kecamatan Batauga.
Namun seiring dengan
pertumbuhan dan dinamika masyarakat yang semakin meningkat, serta untuk
menjawab tuntutan perbaikan kualitas pemberian pelayanan kepada masyarakat dan
percepatan pembangunan Kecamatan Batauga, maka setelah dilakukan pertemuan
antara Tim Pemekaran Kecamatan, Camat, Ketua LPM dan Tokoh-tokoh masyarakat
pada tanggal 5 Februari 2003 dengan rahmat Allah SWT, ditetapkan peraturan
daerah tentang pembentukan Kecamatan Kadatua hasil dari pemekaran Kecamatan Batauga,
yang kemudian tanggal 5 Februari 2003 disepakati sebagai hari lahirnya
kecamatan kadatua. (Wawancaran dengan Camat Kadatua 9 Januari 2014)
Kecamatan Kadatua
dengan luas wilayah 32,82 km2 atau sekitar 1,31 persen dari luas
daratan Kabupaten Buton. Secara Administratif Kecamatan Kadatua
berbatasan dengan :
1. Sebelah
Utara berbatasan dengan laut Flores
2. Sebelah
Timur berbatasan dengan selat Masiri
3. Sebelah
Selatan berbatasan dengan selat Siompu
4. Sebelah
Barat berbatasan dengan laut Flores
Sebelum terbentuknya
Kecamatan Kadatua hanya terdiri dari Enam Desa, yakni : Desa Banabungi, Desa Lipu,Desa
Uwemasi,Desa Kaofe,Desa Waonu, dan Desa Kapoa. dengan seiring berjalanya waktu
dan Untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Kadatua, sehingga
pada tahun 2006 beberapa Desa dimekarkan. Adapun desa yang yang berada
dikecamatan kadatua sampai sekarang terdiri dari :
1.
Desa Banabungi dengan luas wilayah 4,13 km2
2.
Desa Banabungi Selatan dengan luas wilayah
2,15 km2
3.
Desa Lipu dengan luas wilayah 7,08 km2
4.
Desa Uwemasi dengan luas wilayah 2,90 km2
5.
Desa Kaofe dengan luas wilayah 1,39 km2
6.
Desa Marawali dengan luas wilayah 7,00 km2
7.
Desa Mawambunga dengan luas wilayah 1,50
km2
8.
Desa waonu dengan luas wilayah 1,76 km2
9.
Desa Kapoa Barat dengan luas wilayah 2,40
km2
10.
Desa Kapoa dengan luas wilayah 2,51 km2
Jumlah penduduk
Kecamatan Kadatua berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2013 adalah 10.587
jiwa yang terdiri dari 5.365 laki-laki dan 5.222 jiwa perempuan.
2.
Keadaan pegawai
Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan, menunjukan keadaan pegawai pada Kantor
Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton yang berstatus PNS sebanyak 15 orang. Untuk
mengetahui lebih jelas keadaan pegawai Negeri Sipil pada Kantor Kecamatan Kadatua
Kabupaten Buton, berikut ini penulis menyajikan data mengenai rincian Pegawai
Negeri Sipil menurut jumlah, golongan kepangkatan dan tingkat pendidikan.
Keadaan
Pegawai Negeri Sipil pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton Dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel
2. Keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua menurut Jumlahnya
Tahun 2013
|
No
|
Satuan/ Unit Kerja
|
Jumlah Pegawai
|
Presentase (%)
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
|
Kepala Kantor Kecamatan Kadatua
Sekretaris Camat
Seksi Pembagunan
Seksi Pemerintahan dan Pelayanan umum
Seksi Ketentraman dan Ketertiban
Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan
Kesra
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian keuagan dan Perlengkapan
Staf
|
1
1
1
1
1
1
1
1
7
|
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
46,66
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber
data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel
2 dijelaskan bahwa keadaan Pegawai Negeri Sipil dalam satuan unit kerja pada
Kantor Kecamatan Kadatua terdiri dari Camat sebanyak 1 orang (6,66 %)
Sekertaris Camat, Seksi Pembagunan, Seksi Pemerintahan dan Pelayanan Umum,
Seksi Ketentraman dan Ketertiban, Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra, Sub
Bagian Keungan dan Pe3rlengkapan masing-masing terdiri 1 orang (6,66%) dan Staf
sebanyak 7 orang (46,66%)
Selanjutnya
Untuk Mengetahui keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua Menurut
Golongan ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel
3. Keadaan Pegawai Negeri Sipil kantor Kecamatan Kadatua Menurut Golongan Tahun
2013
|
No
|
Golongan
|
Jumlah Pegawai
|
Presentase%
|
|
1
2
3
|
IV
III
II
|
1
4
10
|
6,66
26,66
66,66
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber
data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel
3 dijelaskan Bahwa mayoritas Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada Kantor
Kecamatan Kadatua berstatus golongan II yang berjumlah 11 orang (66,66%),
kemudian disusul oleh pegawai yang berstatus golongan III sebanyak 4 orang
(26,66%) sedangkann status golongan IV hanya berjumlah 1 orang (6,66%). Kemudian
untuk mengetahui keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua menurut
tingkat pendidikan dapat ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel
4. Keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua Menurtu Tingkat
Pendidikan Tahun 2013
|
No
|
Tingkat Pendidikan
|
Jumlah Pegawai
|
Presentase
|
|
1
2
|
SLTA/Sederajat
S1
|
13
2
|
86,66
13,33
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber
data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel
4 Menunjukan bahwa tingkat pendidikan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan
Kadatua sudah cukup memadai, dimana Pegawai Negeri Sipil yang perpendidikan
SLTA/Sederajat berjumlah 13 orang (86,66%) Sedangkan pegawai yang berpendidikan Sarjana berjumlah 2 orang (13.33%).
3. Struktur Organisasi dan Tata
Kerja Kantor Kecamatan Kadatua
Struktur
organisasi merupakan gambaran mekanisme kerja secara visual sehingga tugas
pokok dan fungsi masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur organisasi
tersebut menjadi lebih jelas. Adapun struktur organisasi Kantor Kecamatan
Kadatua Kabupaten Buton sesuai dengan SK Bupati Buton Nomor 33 Tahun 2008
tentang pembentukan organisasi dan tata kerja kerja Kecamatan Kadatua Kabupaen
Buton adalah sebagai berikut :
Skema
Struktur
Organisasi Kantor Kecamatan Kadatua Tahun 2008
|
Camat
|
|
Sekretaris Kecamatan
|
|
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
|
|
Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan
|
|
Kelompok Jabatan
Fungsional
|
|
Seksi Pemerintahan dan Pelayanan Umum
|
|
Seksi Ketentraman dan Ketertiban
|
|
Seksi Pembagunan
|
|
Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra
|
Berdasarkan
skema strukturr organisasi, maka tugas pokok dan fugsi masing-masing bagian
yang ada disesuaikan dengan SK Bupati Buton No. 33 tahun 2008 tentang
pembentukan organisasi dan tata kerja kecamatan kadatuakabupaten Buton
dijelaskan sebagai berikut :
1.
Kepala
Kecamatan
Camat
mempunyai tugas membantu Bupati dalam menyelenggarakan pemerintahan,
pembangunan, dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan sesuai dengan peraturan
perundangan-undangan. Untuk menyelenggarakan tugas sebagiamana dimaksud didalam
peraturan perundang-undangan, camat mempunyai fugsi sebhagai berikut :
a. Pelaksanaan
pelimpahan sebagian kewenagan pemerintah yang diserahkan langsung oleh
pemerintah Kabuapaten.
b. Pelayanan
peneylenggaraan pemerintahan kecamatan
c. Pelaksanaan
Koordinasi terhadap seluruh unit kerja di kecamatan
d. Pelaksanaan
urusan kesekretariatan
e. Pelaksnaan
tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
2.
Sekretaris
Camat
mempunyai
tugas melaksanakan sebagian tugas camat dalam melakukan pembinaan dan
pengelolaan administarsi, memberikan pelayanan teknis adminstrasi dan
kesekretariatan kepada seluruh satuan kerja dilingkungan kantor kecmatan yang
meliputi surat-menyurat dan arsip, kepegawaian dan ketatalaksanaan, keuangan,
umum dan perlengkapan, kehumasan dan protol serta menyusun laporan atas
penyelenggaraan pemerintahan pembangunan dan pembinaan kehidupan
kemasyarakatan., sekertaris kecamatan juga mempunyai fungsi yaitu :
a. Pelaksanaan
urusan kesekretariatan yang meliputi pengelolaan urusan surat menyurat dan
arsip, hukum, pengelolaan perlengkapan dan rumah tangga. Pendidikan dan
pelatihan serta pelaksanaan urusan kehumasan dan protokol.
b. Pelaksanaan
urusan administarsi keuangan, perbendaharaan dan penyusunan anggaran
c. Pelaksanaan
urusan kepegawaian dan tatalaksana
d. Pelaksanaan
pensunan laporan penelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan
kehidupan kemasyaarakatan.
e. Pelaksanaan
tugas lain yang diberikan oleh camat.
3.
Sub
Bagian Umum dan Kepegawaian
Mempunyai
tugas memngumpulkan bahan pedoman petunjuk teknis, melaksanakan urusan
kesekretarian, surat menyurat dan arsip kepegawaian hukum dan tata laksana,
urusan kehumasan dan protokol serta pendidikan dan pelatihan.
4.
Sub
Bagian Keuangan dan Perlengkapan
Mempunyai
tugas mengumpulkan bahan pedomanan petunjuk teknis, penyusunanan rencana dan
program, pengelolaan administrasi keuangan, perbendaharaan dan penyusunan
anggaran serta pengelolaan perlengkapan dan rumah tangga.
5.
Seksi
Pemerintahan dan Pelayanan Umum
Mempunyai
tugas melaksanakan sebagian tugas camat yang meliputi pemerintahan umum,
kelurahan dan desa, melaksanakan urusan administrasi kependudukan dan catatan
sipil, pembinaan politik dalam negeri, pembinaan supremasi hukum dan
admkinistarasi pertanahan serta pelaksanakan urusan pelayanan umum.disamping
itu juga mempunyai fungsi yaitu :
a. Pelaksanaan
penyusunan program pembinaan penyelenggaraan pemerintahan umum kelurahan dan
desa.
b. Pelaksanaan
penyusanan program pembinaan administrasi dan pelaporan perkembangan
kepedudukan dan catatan sipil serta inventarisasi kekayaan kecamatan adan
kelurahaan/desa.
c. Pelaksanaan
penyusunan program, pembinaan supremasi hukum dan administrasi pertanahan serta
kekayaan, kebersihan, pertamanan, dan sanitasi lingkungan.
d. Pelaksanaan
tugas lain yang diberikan oleh camat.
6.
Seksi
Ketentraman dan Ketertiban
Mempunyai
tugas melaksanakan sebagian tugas camat yang meliputi pelaksanaan pembinaan dan
ketentaram dan ketertiban. Disamping itu juga menyelenggarakan fungsi :
a. Pelaksanaan
penyusunan program dan pembinaan penyelenggaraan aparat ketertiban dan polisi
pamong praja.
b. Pelaksanaan
penyusunan program dan penyelenggaraan pembinaan ketentraman dan keteriban umum
serta tertib perizinan.
c. Pelaksanaan
yugas lain yang diberikan oleh Camat.
7.
Seksi
Pebangunan.
Mempunyai
tugas melaksanakan sebagian tugas Camat dalam mengumpulkan dan menyiapakan
bahan teknis perencanaan program, melaksanakan dan mengkoordinasikan penyusunan
rencana pebangunan, melakukan pemantauan, evaluasi dan pelaaporan atas jalannya
pogram pembangunan serta melakukan bembinaan terhadap penyelenggaraan
pembangunan dibidang perekonomian yang meliputi pembianaan produksi, distibusi
dan lingkungan hidup. seksi pembangunan juga mempunyai fungsi yaitu:
a. Pelaksanaan
penyusunan rencana dan program serta pembinaan penyelenggaraan pembangunan.
b. Pelaksanaan
pemantauan, pengendalian, evaluasi, dan pelaporan atas penyelenggaraan kegiatan
pembangunan.
c. Pembinaan
perekonomian menyangkut produksi dan distribusi yang meliputi penyelenggaraan
pembianaan perbangkan, perkreditan rakyat, koperasi dan usaha kecil,
perindustrian dan perdagangan, usaha informal, pertanian, peternakan,
perkebunan, perikanan dan kehutanan serta peningkatan kelancaran distribusi hasil
produksi.
d. Pelaksanaan
tugas lain yang diberikan camat.
8.
Seksi
Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra
Mempunyai
tugas melaksanakan sebagian tugas camat dalam mengumpulkan dan menyiapkan bahan
petunjuk teknis, melakukan penyusunan rencana dan program serta kegiatan
pembinaan masyarakat dan kesra, mental spritual dan kegiatan urusan
kemasyarakatan dan kesra lainnya sesuai ketentuan peraturan
perundangan-undangan yang berlaku, seksi pemberdayaan masyarakat dan kesra
juga mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan
penyusunan program dan pembinaan pelayanan masyarakat dan kesra yang meliputi
bantuan sosial, pemberdayaan perempuan, KB dan kesehatan masyarakat.
b. Pelaksanaan
penyusunan program dan pembinaan kehidupan keagamaan, pendidikan dan kebudayaan
serta kepemudaan dan olah raga.
c. Pelaksanaan
penyusunan program dan pembinaan kegiatan kemasyarakatan dan kesra lainnya.
d. Pelaksanaan
tugas lain yang diberikan oleh Camat.
4.
Keadaan Sarana dan Prasarana Kantor Kecamatan Kadatua
Salah satu faktor penunjang dalam
pelaksanaan berbagai aktifitas pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua adalah
tersedia berbagai sarana dan prasarana kerja yang dapat menunjang aktifitas
kerja pegawai gunamemperlancar pencapaian tujuan organisasi.
Adapun
berbagai saranan dan prasarana pendukung pelaksanaan kerja pada kantor
Kecamatan Kadatua dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel
5. Keadaan sarana dan prasarana kerja pada kantor kecamatan Kadatua tahun 2013.
|
No
|
Jenis peralatan / Barang
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
|
Mobil Dinas
Motor Dinas
Komputer
Lemari bufet
Meja Biro
Kursi tamu
Rak Buku
Lemari arsip
Mesin ketik
Peta wilayah kecamatan
Kursi Plastik
Mesin potong rumput
Genset
Papan Struktur Kecamatan
|
1
2
2
2
2
1
2
3
2
1
17
2
1
1
|
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
|
Sumber
data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel
5 menunjukan bahwa pada dasarnya keadaan sarana dan prasarana penunjang yang
dimiliki oelh kantor kecamatan kadatua suduh cukup memadai dalam mendukung
tugas organisasi tetapi seiring dengan perkembangan waktu dengan kondisi kerja
yang semakin besar dan kompleks maka
sarana dan prasarana penunjang tersebut agar selalu diperhatikan keadaannya
sehinga pelaksanaan tugas-tugas organisasi kedepannya tetap berjalan
dengan baik.
B. Upaya Peningkatan Kemampuan
Sumber Daya Manusia
berikut
ini akan diuraikan hasil penelitian mengenai upaya peningkatan kemampuan sumber
daya manusia.
1.
Pendidikan
Lanjutan.
Dalam
upaya peningkatan efeektifitas kerja pegawai, maka kantor kecamatan kadatua
memberikan kesempatan pada pegawainya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih
tinggi dengan persyaratan bahwa dalam mengikuti pendidikan tersebut baik tugas
pegawai yang bersangkutan maupun tugas-tugas kedinasan, pada unit yang
bersangkutan tidak tergganggu pelaksanaannya.
Kemudian
untuk mengetahui keadaan pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua menurut
jenjan pendidikan yang mengikuti pendidikan lanjutan dapat ditampilkan pada
tabel berikut :
Tabel
6 : karakteristik responden berdasarkan jenjang pendidikan pada kantor
kecamatan Kadatua tahun 2013
|
No
|
Jenjang pendidikan
|
Jumlah Pegawai
|
Presentase %
|
|
1
2
3
|
SLTA/Sederajat
Diploma
S1
|
13
-
2
|
86,66
-
13,33
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber
data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel
6 menunjukan bahwa tingkat jenjang pendidikan pegawai Negeri Sipil yang
mengikuti pendidikan lanjutan dikantor kecamatan kadatua Kabupaten Buton yang
perpendidikan SLTA 13 orang atasu (86,66 %). Yang perpendidikan S1 sebanyak 2
orang (13,33 %) sedangkan yang berpendidikan diploma tidak ada.
Keberadaan
tingkat pendidikan tersebut sangat menunjang kegiatan aktifitas pada Kantor
Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton meskipun demikian tingkat pendidikan
pegawai masih perluh ditingkatkan,
karena masih terdapat 86,66 % memiliki tingkat
SLTA. (Wawancara dengan Camat Kadatua Drs. Harsila, 9 Januari 2014)
Berikut
ini akan disajikan mengenai tanggapan responden tentang pelaksanaan pendidikan
lanjutan yang mempengaruhi efektifitas kerja Pegawai Kantor Kecamatan Kadatua.
Tabel
7 : tanggapan responden tentang pelaksanaan pendidikan lanjut yang mempengarui
efektifitas kerja pegawai.
|
No
|
Tanggapan responden
|
Jumlah
|
Presentase%
|
|
1
2
3
|
Berpengaruh
Cukup Berpengaruh
Tidak berpengaruh
|
8
5
2
|
53,3
33,3
13,4
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber
data : kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel
7 dilihat bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 8 orang responden atau
sebesar 53,3 % mengatakan bahwa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih
tinggi berpengaruh terhadap efektifitas kerja di Kantor Kecamatan Kadatua,
sebanyak 5 orang responden atau sebesar 33,3 % mengatakan cukup berpengaruh,
sedangka 2 orang responden atau sebesar 13,3 % mengatakan tidak berpengaruh.
Hal
tersebut diatas diperkuat dengan hasil wawancara dengan Sekretaris Camat,
ketika penulis menanyakan tentang pengaruh efektifitas kerja pegawai yang
melanjutkan pendidikan efektifitas kerjanya meningkat, hal ini dapat dilihat
dimana pegawai yang melanjutkan pendidikan lebih mudah menerima, memahami dan
melaksanakan tugas-tugas atau pekerjaan yang diberikan kepadanya. (Wawancara 9
Januari)
2.
Pelatihan
Dan Khursus
Kantor kecamatan Kadatua Kabupaten
Buton pada khususnya Camat Kadatua memberikan pelatihan dan khursus terhadap
peningkatan kemampuan dan keterampilan pegaiwanya. Misalkan pelatihan dalam
percetakan KTP dan kartu Keluarga, hal ini terbukti dengan diberikanya
kesempatan kepada pegawainya , untuk mengikuti pelatihan kerja bagi pegawainya,
dan memberikan kesempatan untuk mengikuti khursus yakni pendidikan jalur
singkat.
Tujuan
utama pemberian pendidikan jalu singkat kepada pegawai kecamatan kadatua adalah
agar pegawai mampu menggunakan dan mengoprasikan berbagai peralatan moderen
yang dalam organisasi tempat melakanakan tugas. Dengan demikian tugas-tugas
operasional sehari-sehari, akan dengan mudah dilaksanakan dan pada akhinya pencapaian
tujuan suatu organisasi dapat dicapai secara optimal.
Hasil
kajian dokumentasi yang dilakukan oelh penulis pada Kantor Kecamatan Kadatua tercatat
bahwa 15 orang pegawai telah mengalami peningkatan melalui pelatihan dan
khursus, untuk lebih jelasnya bdapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 8 : jenis pelatiahan dan khursus
yang diikuti oleh pegawai kantor kecamatan kadatua tahun 2005-2013
|
No
|
Jenis pelatihan yang diikuti
|
Jumlah
|
Persentase %
|
|
1
2
3
|
Diklat Teknis
Diklat struktural
Khursus Komputer
|
5
6
4
|
33,3
26,7
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Bagi
pegawai yang mengikuti pelatihan diklat teknis untuk meningkatkan
keterampilan/skil yang dapat menunjang pelaksanaan tugas gas-tugas terutama
untuk tugas yang menyangkut penyelenggaraan administrasi pada Kantor Kecamatan
Kadatua Kabupaten Buton agar dapat melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari
dalam memberikan pelayanan secara efektif dan efisien baik sebagai staf maupun
sebagai pimpinan.
Adapun diklat teknis yang pernah diikuti
pegawai Kecamatan Kadatua pada tahun 2011-2012 adalah khurusus manajemen
kearsipan. Khursus-khursus manajemen kerasipan bertujuan untuk memberikan
pendidikan dan pelatiahan kepada para pegawai, menyangkut pengelolaan
administrasi kearsipan yang diharapkan melalui diklat ini para pegawai
mempunyai kemamampuan dalam menyusun arsip secara rapi dan sistematis.
Sedangkan diklat perjenjangan atau struktural dilaksanakan untuk mengembangan
pengetahuan, kemampuan dan keterampilan pegawai dalam menjalankan tugas.
Selanjutnya
bagi para pegawai yang mengikuti khursus komputer diharapkan mampu
mengoprasikan, menggunakan komputer sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan
tugas-tugas kantor yang berhubungan dengan pelayanan dan administrasi kantor.
Kursus komputer ini dilaksanakan selama 3 bulan dan diikuti oleh 4 orang.
Berikut
ini akan disajikan data mengenai tanggapan responden terhadap efektifitas kerja
pegawai setelah mengikuti pelatihan dan khursus.
Tabel
9 : tanggapan responden terhadap pengaruh efektifitas kerja pegawai setelah
mengikuti pelatihan dan khrsus tahun 2013.
|
No
|
Tanggapan responden
|
Jumlah
|
Presentase %
|
|
1
2
3
|
Berpengaruh
Sangat berpengaruh
Tidak berpengaruh
|
10
3
2
|
66,7
20
13,3
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun
2013
Dari
data tabel 9 menunjujakan bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 10 orang
responden atau sebesar 66,7 % menyatakan bahwa pengaruh efektifitas kerja
pegawai yang telah mengikuti pelatiahn dan khrsus berpengaruh terhadap hasil
kerja yang dilakukannya, selanjutnyaa sebanyak 3 orang responden atau sebesar
20 % mengatakan cukup berpengaruh, dan yang mengatakan yang tidak berpengaruh
sebanyak 2 orang responden at sebesar 13,3 %.
Data
tersebut diatas diperkuat dengan hasil wawancara penulis dengan Sekretaris
Camat mengatakan bahwa pegawai yang mengikuti pelatihan umumnya berpengaruh
terhadap efektifitas kerjannya. Hal ini terlihat jelas dari haisl tugas dan
pekerjaan yang dilaksanakan dapat diselsaikan tepat pada waktunya. Bagi mereka
yang telah mengikuti khursus komputer, dapat dengan mudah mengerjakan pekerjaan
kantor yang berhubungan dengan ketik-mengetik sehingga mereka tidak lagi
menggunakan jasa orang luar kantor. (Wawancara 9 Januari 2014)
Dengan
demikian penulis menyimpulakan bahwa dengan adanya peningkatan kemampaun sumber
daya manusia melalui pendidikan lanjut, pelatihan dan khursus yang telah dan
yang akan dilaksanakan tidak hanya diperlukan untuk tugass-tugas sekarang,
tetapi juga dalam rangka mengoptimalisasikan tugas-tugas yang akan dihadapi
dimas datang, dalam rangka meningkatkan efektifitas kerja pegawai.
C. Efektifitas Kerja Pegawai
Efektifitas
kerja adalah suatu ukuran yang menanyakan beberapa jauh target (kuantitas,
kualitas, dan waktu) yang telah dicapai. Dalam penelitian ini, pengukuran
efektifitas kerja dapat dilihat dari tingkat ketelitian pegawai, tingkat
pencapaian sasaran tugas bidang pelayanan administrasi, tingkat ketepatan
waktu, dan tingkat penerapan disiplin kerja.
1.
Tingkat
Keteletian Pegawai
Salah
satu ukuran yang paling penting dari efektifitas kerja pegawai adalah ukuran tingkat
ketelitian dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Yang dimaksud dengan ketelitian
pegawai bekerja secara profesional sesuai job masing-masing
Dengan
adanya ketelitian pegawai, memungkinkan bagi setiap pegawai untuk mencurahkan
pemikiran, perhatian dan kemampuannya dalam menjalankan tugas-tugas pekerjaan
yang menjadi tanggung jawab.
Berikut
ini disajikan data mengenai tanggapan responden mengenai tingkat ketelitian
pegawai dalam menyelesaikan tugas-tugas kantor.
Tabel
10 : tanggapan responden tentang tingkat ketelitian pegawai dalam penyelesaian
tugas-tugas kantor tahun 2013
|
No
|
Tanggapan responden
|
Jumlah
|
Presentase %
|
|
1
2
3
|
Baik
Cukup baik
Kurang baik
|
10
5
-
|
66,7
33,3
0
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun
2013
Dari
data tabel 10 menunjukan bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 10 orang
responden atau sebesar 66,7 % mengatakan bahwa tinggkat ketelitian pegawaidalam
menyelesaikan tugas-tugas kantor sudah baik, sedangkan 5 orang responden atau
sebesar 33,3% memngatakan cukup baik, dan yang mengatakan kuran baik tidak ada.
Data
tersebut diperkuat dengan hasil wawancara penulis dengan Sekretaris Kecamatan
yang mengatakan bahwa, pada umumnya pegawai Kecamatan Kadatua telah menjalankan
tugas-tugasnya dengan baik dan teliti sesuai dengan prosedur kinerja yang
berlaku dilingkungan Kantor Kecamatan .
2.
Tingkat
Pecapaian Sasaran Tugas Bidang Pelayanan Administrasi
Penyelenggaraan
tugas-tugas kantor khususnya dibidang pelayanan bidang administrasi nmerupakan
faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan Kantor Kecamatan Kadatua
Kabupaten Buton, karena merupakan kunci penentu kemajuan dan keberhasilan
orgainisasi kantor.
Dengan
adanya sasaran tugas bidang pelayanan administarsi memungkinkan para pegawai
untuk mencapai target yang telah ditentukan, sehingga sasaran yang ingin
dicapai dapat terlaksana dengan baik.
Secara
umum ukuran optimalisasi pelayanan administrasi pada Kantor Kecamatan Kadatua
Kabupaten Buton, dalam mengjukan pertanyaan kepada responden adalah optimal,
artinya pelayanan adminsitrasi yang diberikan sudah tepat, sedangkan cukup
optimal artinya pelayanan adminstrasi yang diberikan kadang-kadang tepat dan
kuran optimal artinya pelayanan diberikan kurang memuaskan dan tidak tepat
waktu.
Berikut
ini disajiakan mengenai tanggapan responden terhadap optimalisasi pencapaian
sasaran tugas dibidang pelayanan adminstrasi kantor.
Tabel
11 : tanggapan responden mengenai optimalisasi pencapaian sasaran tugas bidang
pelanyanan adminstrasi kantor 2013
|
No
|
Tanggapan Responden
|
Jumlah
|
Presentase %
|
|
1
2
3
|
Optimal
Cukup optimal
Kurang optimal
|
13
2
0
|
86,6
13,4
0
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun
2013
Dari
tabel 11 menunjukan bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 13 orang responden
atau sebesar 86,6 % mengatakan bahwa tingkat optimalisasi pecapaian ssaran
tugas pelayanan administrasi adalah optimal, selanjutnya sebanyak 2 orang
responden atau sebesar 13,4 mengatakan cukup optimal, dan yang mengatakan
kurang optimal tidak ada.
Data
tersebut didukung dengan hasil wawancara dengan Sekretaris Camat Kadatua Kabupaten
Buton yang mengatakan bahwa pencapaian sasaran tugas bidang pelayanan
administrasi di Kantor kecamatan kadatua Kabupaten buton sudah terlaksanakan
secara optimal, karena ditunjang dengan hasil pelaksanaan program tahunan
kecamatan kadatua kabupaten buton yang dilaporkan oleh para pegawai setiap 3
bulan sekali.
3.
Tingkat
Ketepatan Waktu
Ketepatan
waktu merupakan salah satu bagian yang diutamakan, karena sangat berpengaruh
terhadap kegiatan-kegiatan kantor utama pengaruh terhadap efektifitas kerja
pegawai. Ketepatan waktu yang dimaksud adalah kemampuan pegawai menyelesaikaan
tuags sesuai waktu yang ditetapkan sehingga tidaj tunggakan kerja. Sebagai
kriteria tingkat ketepatan waktu pegawai dalam menyelesaikan tugas kantor yaitu
tepat waktu artinya pekerjaan atau tugas kantor dapat selesai dengan waktu yang
ditentukan, sedangkan kurang tepat waktu artinya pekerjaan atau tugas kantor
masih belum dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan dan tidak
tepat waktu artinya pekerjaan atau tugas kantor tidak dapat diselesaikan sesuai
dengan waktu yang ditentukan.
Berikut ini tanggapan
responden terhadap ketepatan waktu pegawai dalam menyelesaikan tugas kantor.
|
No
|
Tanggapan responden
|
Jumlah
|
Presentase %
|
|
1
2
3
|
Tepat waktu
Kurang tepat
waktu
Tidak tepat
waktu
|
9
4
2
|
60
26,7
13,3
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun
2013
Dari
data tabel 12 menunjukan bahwa dari 15 orang responden sebanyak 9 orang
responden atau sebesar 60 % mengatakan bahwa tingkat ketepatan waktu dalam
menyelesaikan tugas kantor sudah tepat waktu, sedangkan sebanyak 4 orang
responden atau sebesar 26,7 % mengatakan kurang tepat waktu, dan yang
mengatakan tidak tepat waktu sebanyak 2 orang atau sebesar 13,3 % dengan
demikian terlihat bahwa pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton tingkat
ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas kantor sudah tepat waktu.
4.
Tingkat
Penerapan Disiplin Kerja
Salah
satu yang dilakukan oleh Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton dalam rangka
mengembangkan pegawainya adalah dengan melakukan penerapan disiplin kerja,
sehingga dapat mempengaruhi efektifitas kerja.
Oleh
karena itu kantor kecamatan kadatua kabupaten buton menekankan penerapan
disiplin kerja, khususnya dalam dua hal yaitu disiplin terhadap peraturan
kedinasan yang berlaku dan disiplin terhadap perintah ataan, disiplin terhadap
dua hal tersebut harus diwujudkan dalam sikap dan prilaku pegawai.
Sebagai
kriteria tinkat penerapan disiplin kerja melalui kedisiplinan peraturan
kedinasan dan perintah atasan yaitu telah terlaksana dengan baik artinya
penerapan disiplin dipauthi senuhnya oleh pegawai, sedangkan belum terlaksana
dengan baik artinya penerapan disiplin kerja masih kurang dipatuhi atau
kadang-kadang dipatuhi, dan tidak tau artinya tidak mengetahui dan menghiraukan
peraturan tentang penerapan disiplin kerja.
Tabel
13 : tanggapan responden mengenai tingkat penerapan disiplin kerja pegawai
terhadap kedisiplinan peraturan kedinasan dan
perintah atasan.
|
No
|
Tanggapan responden
|
Jumlah
|
Presentase %
|
|
1
2
3
|
Telah terlaksana dengan baik
Belum terlaksana dengan baik
Tidak tau
|
12
3
-
|
80
20
-
|
|
|
Jumlah
|
15
|
100
|
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun
2013
Dari
tabel 13 menunjukan bahwa dari 15 orang responden sebanyak 12 orang responden
atau sebesar 80 % mengatakan bahwa tingkat penerapan disiplin kerja pegawai
terhadap peraturan kedinasan maupun perintah atasan telah terlaksan dengan
baik, sedangkan 3 orang responden atau sebesar 20 % mengatakan belum terlaksana
dengan baik, dan mengatakan tidak tau yaitu tidak ada. Dengan demikian terlihat
bahwa pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton tingkat penerapan disiplin kerja dalam
menyelesaikan tugas kantor telah terlaksana dengan baik.
Hal
ini juga didukung dengan wawancara Kepala Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten
Buton, yang mengatkan bahwa penerapan disiplin kerja telah dilaksanakan dengan
baik oleh semua pegawai kecamatan kadatua tampa terkecuali, dengan selalu
mengingatkan dan menegur pegawai yang lalai dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya baik melalui peraturan kedinasan maupun perintah yang
diberikan. (wawancara 9 januari 2013)
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa efektifitas kerja pegawai Kantor Kecamatan
Kadatua Kabupaten Buton sebagian besar sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari
tingkat ketelitian pegawai, tingkat ketepatan waktu, dan tingkat penerapan
disiplin kerja yang telah dilaksanakan sepenuhnya oleh pegawai kecamatan
kadatua.
D.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Upaya
Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Pada Kantor Kecamatan Kadatua
Peningkatan
kemampuan sumber daya manusia pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton
telah di buktikan dengan keikutsertaan pegawai dalam meningkatkan kemampuan dan
keterampialn pegawai namun terlepas dari itu, peningkatan kemampuan sumber daya
manusia juga tidak terlepas dari faktor-faktor pendukung dan penghambat, adalah
sebagai berikut :
1. Faktor
pendukung
Adapun faktor pedukung dalam peningkatan
sumber daya manusia pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton adalah
sebagai berikut :
a. Adanya
kebijakan/inisiatif kepala kantor untuk mengikut sertakan pegawai mengikuti
program peningkatan kemampuan sumber daya manusia lewat jalur pendidikan dan
pelatihan dalam rangka meningkatkan aefektifitas kerja pegawai.
b. Adanya
motivasi dan kemauan pegawai untukn meningkatkan dan mengembangkan kemampaun
dan keterampilan melalui pendidikan, peltihan dan khursus.
c. Dana
anggaran peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang tersedia cukup memadai
sehingga memungkinkan Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton untuk melakukann
program peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
2. Fakor
penghambat
Sarana
dan prasarana yang ada bila dilihat dari kuantitas sudah cukup memadai namun
dari segi kualitas pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton, pada
umumnya ingin agar kuantitas sarana dan prasarana yang ada untuk ditingkatkan,
seperti prasarana gedung, pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton
menginginkan rungan kerja diperluas.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pada hasil pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa
peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang dilakukan oleh kantor kecamatan
kadatu kabuparen buton telah berjalan dengan baik melalui pendidikan, pelatihan
dan khursus keterampilan manajemen yang telah dilaksanakan sehingga membawa
dampak positif terhadap efektifitas kerja pegawainya. Hal ini dikarenakan
peningkatan kemampuan dan keterampilan pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua,
hal ini tentunya akan menunjang efektifitas kerja pegawai. Efektifitas kerja
pada Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton sebagian besar sudah baik. Hal ini
t5ampak dari tingkat ketelitian pegawai, tingkat pencapaian sasaran tugas
bidang administrasi, tingkat ketepatan waktu, dan tingkat penerapan disiplin
kerja yang terlaksana dengan baik oleh pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua
Kabupaten Buton. Adapun faktor-faktor pendukung peningkatan kemampuan Sumber
Daya Manusia pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabuten Buton meliputi kebijaksanaan
kepala kantor untuk mengikutsertakan pegawainya untuk mengikuti program
peningkatan kemampuan sumber daya manusia, memotivasi pegawai mengikuti
pendidikan, pelatihan, khursus, dan dana anggaran yang cukup memadai. Sedangkan
faktor yang menghambat yakni mengenai sarana dan prasarana yang masih perluh
dibenahi.
B.
Saran
Berdasarkan
temuan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis menyarangkan
diharapkann kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini Kepala Kantor Kecamatan
Kadatua Kabupaten Buton memberikan kesempatan kepada pegawainya untuk mengikuti
peningkatan kemampuan sumber daya manusia khususnya pada pegawai yang belum
mengikuti pengembangan sumber daya manusia dan diharapkan pada pengambil
kebijakan untuk membina dan mengkoordinir para pegawainya secara baik, hal ini
bertujuan untuk mempermudah dalam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
Diharapakan pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton harus lebih
meningkatkan mutu kualitas pelayanan kerja, sehingga dapat terwujud tujuan dan
sasaran organisasi kantor.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikuto,
Suharsimi, 1998. Pposedurpenelitian :
suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi IV. Jakarta : Rineka Cipta.
Atmosoepraptop,
kisdarto, 2001. Produktifitas Budaya
Perusahaan. Jakarta : PT Alex Media Komputindo.
Badan
kepegawain Negara (BKN), 1999. Undang-undang
RI Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Pokok-Pokok
Kepegawaian. Jakarta.
Dahlan,
M. Alwi, 1992, “Mencari Ukuran Kualitas
Penduduk”, Dalam Sofian Effendi Dkk, Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu
Social Dalam Pembangunan. Yogyakarta, Gadjah Maja University Press
Dwijonto,
Rian Nugraha, 2003. Reinveiting
pembanguna, Jakarta: PT Alex Media Komputindo
Etzioni,
Amitai, 1985. Organisasi-organisasi
modern, Jakarta, penerbit Universitas Indonesia Dan Pustaka Bradjaguna.
Gibson,
James I, jhon M. Ivancevic dan Games H. Donnely Jr, 1996. Organisasi : perilaku, struktur, proses, Jilid I. Jakarta: Bina
Rupa Aksara.
Handayaningrat,
Soewarno, 1993. Pengantar Studi Ilmu
Administrasi Negara. Jakarta: CV Haji Masagung.
Hidayat
dan Sucherly, 1996. “Peningkatan
Produktifitas Organisasi Dan Pegawai Negeri Sipil”, Majalah Prisma, Nomor
II
Israel,
Artuto, 1992. Pengembangan Kelembagaan: Pengalaman Proyek-Proyek
Bank Dunia, Jakarta, LP3ES.
Lim,
Johanes,2002. Strategi Sukses Mengola
Karir dan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Manullang,
M. dan AMH Manulang, 2001. Manajemen
Personalia, Yogyakarta: Gadjah University Press
Moekijat,
1989, evaluasi Latihan Bagi Pegawai
Negeri, Bandung, Penerbit Sinar Baru.
Nitisimito,
Alex S, 1992, Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakarta, Ghalia Indonesia.
Patty.
F, Kasmiran Woerjo, Moh. Noor Syam, Wayan Ardhana, Indung Saleh, 1987. Pengantar Psikologi Umum. Surabaya :
Usaha Nasional
Siagian,
S.P, 1987. Pengembangan Sumber Daya
Isani. Jakarta, PT. Gunung Agung.
Silalahi, T.B, 1998, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Jakarta CV
Haji Masagung
Syarif,
Rusli, 1991. Teknik manajemen latihan dan pembinaan. Bandung. PT.
Angkasa
Swasono,
Yudo, dan Ending Sulistyanibgsi, 1993,
Metode Perencanaan Tenaga Kerja. Yogyakarta, Penerbit BPFE
Zainun,
Buchari, 1992. Administrasi Dan Manajemen
Kepegawaiam Pemerintah Indonesia. JakaIrta, Gedung Agung
Umar,
Husen, 1999. Riset Sumber Daya Manusia
Dalam Organisasi. Jakarta, Gedung Agung
Tjondronegoro,
Sedijo, 1994. Dua Abad Penguasa Tanah. Jakarta.
Gramedia.
ABSTRAK
Mardin (C1A1 10 122)
Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Menunjang Efektifitas
Kerja Pegawai Pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton.
Jurusan Ilmu Administarsi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik Universitas Halu Oleo dibimbing oleh
Sartono, S.Sos, M.Si selaku Pemimbing I dan Dra. Nurjannah, MA
selaku Pembimbing II dengan permasalahan : (1) Bagaimana Upaya Peningkatan Kemapuan
Sumber Daya Manusia Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kecamatan Kadatua.
(2) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam
Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kantor Kecamatan Kadatua.
Penelitian ini
bertujan untuk : (1) Mengetahui Bagaimana
Upaya Peningkatan Kemapuan Sumber Daya Manusia
Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kantor Kecamatan Kadatua kabupaten
buton, dan (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan Kemampuan
Sumber Daya Aparat
Dalam
Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kantor Kecamatan kadatua kabupaten buton.
Populasi balam penelitian ini adalah seluruh
pegawai yang terdaftar sebagai Pegawai Negeri
Sipil Pada Kantor Kecamatan
Kadatua Kabupaten Buton yang berjumlah 15 orang. Oleh karena itu jumlah
tersebut dapat dijangkau, maka keseluruhn populasi dijadikan sampel dalam penelitian
ini berjumlah 15 orang.
Hasil penelitian
menunjukan bahwa Upaya Peningkatan Kemapuan Manuisa
Pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton dalam meningkatkan
efeketifitas kerja telah berlangsung dengan baik, hal ini terlihat pada
pemberian pendidikan lanjut kepada pegawai serta pelatihan khursus. Faktor yang
mendukung upaya peningkatan kemampuann
kerja aparat adalah motivasi yang begitu tinggi dari pegawai, sedangkan faktor
penghambat adalah terbatasnya kemampaun pendanaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar