Kamis, 06 Maret 2014



UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) DALAM MENUNJANG EFEKTIFITAS KERJA PEGAWAI PADA KANTOR KECAMATAN KADATUA KABUPATEN BUTON
 


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Pengembangan SDM berhubungan erat dengan usaha peningkatan taraf hidup manusia itu sendiri, terutama pada era globalisasi pada saat ini, sehingga usaha pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan potensi SDM dapat ditingkatkan melalui beberpa sektor pembangunan yang  tanggu, cakap, terampil percaya pada diri sendiri dan besemangat membangun
            Tujuan peningkatan SDM pada hakekatnya diarahkan untuk merubah sumber daya manusia yang potensial menjadi tenaga kerja yang produktif. Dalam usaha meningkatkan tenaga kerja yang produktif, diperlukan jenjang pendidikan dan latihan secara bertahap dari kempuan teknis ditingkatkan kearah kempuan manajerial, diusahakan untuk meningkatkan derajat kesejahteraan maupun diarahkan pada menyiapkan tenaga-tenaga yang mampu menerima ahli teknologi . kesemuanya ini diperlukan agar SDM yang cukup besar tidak akan menjadi beban (liabilities), tetapi mampu dikembangkan menjadi modal dasar (assets) bagi proses pembangunan yang akan dilaksanakan.
            Peningkatan SDM dimaksud untuk meningkatkan keterampilan atau kemampuan kerja manusia dalam melakukan berbagai macam kegiatan dalam masyarakat. Pemanfaatan SDM tertentu berbeda dengan sumber daya yang lain. Untuk dapat memanfaatkan SDM secara optimum, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan pembinaan dan pengembangannya.
            Upaya peningkatan SDM dimaksud untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan manusia dalam melakukan berbagai kegiatan dalam organisasi. Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu faktor yang penting dalam peningkatan SDM, pendidikan dan pelatihan tidak saja menambah pengetahuan akan tetapi juga meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja, demikian juga dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi kerja.
            Pelaksanaan pembinaan SDM dilingkungan Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton masih relatif kurang, hal ini terjadi karena pemberian, pendidikan dan pelatihan Diklat kepada para pegawai sebagai salah satu upaya pengembanga SDM masih jarang dilakukan. Beberapa tahun terakhir ini masih jarang dilakukan. Beberapa tahun terakhir ini semakin jarang pegawai kantor Kecamatan Kadatua yang mengikuti diklat sehingga menyebabkan rendahnya efektifitas kerja pegawai seperti penyelesaian pekerjaan tidak tepat waktu, kurangnya motivasi pegawai dalam melaksanakan tugas keseharianya dalam organisasi. Kantor Kecamatan Kadatua diketahui bahwa pegawai yang mengikuti diklat selama kurung waktu 2009-2012 hanya mencangkup 3 orang pegawai saja. Berikut disajikan data Pegawai Kecamatan Kadatua yang mengikuti diklat dalam kurung waktu 2009-2012


Tabel. Data pegawai Kantor Kecamatan Kadatua yang mengikuti diklat
No
Jenis diklat
Tahun
Jumlah (orang)
1.
2.
Diklat Perjenjangan/struktural
Diklat teknis
2009-2010
2011-2012
1
2
  Sumber : Kantor Kecamatan kadatua 2012
Pengembangan sumber daya manusia pegawai kantor kecamatan Kadatua melalui pemberian diklat kepada para pegawai masih kurang, sehinnga berimbas pada rendahnya efektifitas kerja pegawai, padahal tujuan utama pengembangan SDM adalah untuk meningkatkan Kinerja Pegawai sehingga tercipta efektifitas dalam pelaksanaan tugas.
            Rendahnya SDM hampir dialami oleh seluruh organisasi pemerintah termaksud di lingkungan Kantor Kecamatan Kadatua. Pendapat tersebut didasarkan atas pengamatan penulis yang menunjukan adanya penurunan kinerja pegawai yang ditinjau dari pemborosan terahadap aspek waktu dan tenaga dalam hal ini kurangnya disiplin kerja masih relative tinggi, penyelesaian pekerjaan kurang tepat waktu. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala Kecamatan Kadatua bahwa pengenbangan Sumber Daya Manusia di Kecamatan Kadatua melalui pemberian diklat kepada para pegawai masih kurang, sehingga terjadi penurunan terhadap kinerja pegawai. Hal ini disadari karena terbentur pada pendanaan.
            Kondisi SDM pada kantor kecamatan Kadatua tentunya akan berdampak pada pelayanan masyarakat. Rendahnya SDM seperti yang diuraikan diatas akan berdampak pada rendahnya pencapaian efektifitas kerja pegawai pada kantor kecamatan kadatua.
Uraian tersebut diatas menunjukan bahwa SDM memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan organisasi, baik organisasi pemerintah maupun organisasi perusahaan swastw. Dalam hal ini kantor Kecamatan Kadatua memerlukan pegawai yang cakap dan terampil serta mampu bekerja sama dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam organisasi guna memudahkan manajemen untuk mengendalikan dan mengarahkan karyawan atau pegawainya dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
            Menyadari akan pentingnya kedudukan dan potensi serta pemanfaatan dan pendayagunaan pegawai, maka upaya yang dikembangkan oleh pihak kantor Kecamatan Kadatua antara lain memberikan kesempatan kepada pegawainya untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimana upaya peningkatan kemampuan SDM aparat dalam menunjang efektifitas kerja pegawai pada kantor kecamatan kadatua
2.      Faktor-faktor apa yang mempengaruhi upaya peningkatan kemampuan SDM dalam menunjang efektifitas kerja pegawai pada kantor Kecamatan Kadatua.

C.    TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.      Tujuan penelitian ini adaloah sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui upaya peningkatan kemampuan SDM dalam menunjang efektifitas kerja pegawai pada kantor Kecamatan Kadatua.
b.      Untuk mengetahui faktor-faktoryang mempengaruhi upaya peningkatan kemampuan SDM dalam menunjang efektifitas kerja pada kantor kecamatan Kadatua.
2.      Manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Sebagai sumbangan ilmia dalam pengembangan konsep dan teori dibidang Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), yang berkaitan dengan komitmen dan kinerja pelayan publik.
b.      Bagi pimpinan kantor Kecamatan Kadatua, dapat menjadi masukan dalam meningkatkan efektifitas pelayanan public melalui perbaikan system pendidikan dan pelatihan pegawai
c.       Bagi peneliti lain, ini dapat menjadi acuan ataupun bahan perbandingan dalam mengkaji masalah efektifitas kerja.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Kemampuan Sumber Daya Manusia
Setiap organisasi memiliki asset yang pada dasarnya dapat digolongkan dalam 3”M”, yaitu : Man, Money dan Material. Dari ketiga unsure M tersebut, M pertama yaitu manusia merupakan asset yang paling penting dan menentukan, karwna nilai kedua M lainya sangat tergantung pemanfaatanya oleh manusia sebagai pelaku aktif dalam organisasi (Amosoepraptop, 2001 : 30 ).
Menurut yudo swasono (1993:19), pengertian sumber daya manusia (human resources) adalah seluruh kegiatan produktif dan potensi yang dapat disumbangkan oleh penduduk. Dalam penelitian ini sumber daya manusia menunjuk pada pegawai yang ada pada kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton. Sesuai tugas pokok dan fungsinya untuk memberikan pelayanan publik maka pegawai diharapkan menyumbangkan kegiatan produktif dan potensi yang dimilikinya.
Menurut Husen Umar (1999:13) mengemukakan bahwa aspek-aspek kualitas sumber daya manusia yang memerlukan perhatian serius dalam setiap organisasi adalah: penguasaan keterampilan dan teknis pelaksanaan kerja, pengetahuan keilmuan, sikap dan kepribadian.
Menurut Buchari Zainul (1992:48), pegawai yang berkualitas dalam arti sebenarnya adalah bahwa kerja yang dikerjakannya menghasilkan sesuatu yang memang dikehendaki dari pekerjaan tersebut. Berkualitas bukan hanya pandai tetapi memenuhi semua syarat kualitas yang dituntut pekerjaan itu sehingga benar-benar dapat diselesaikan menurut ukuran yang dikehendaki dari setiap pegawai adalah kemampuan atau kecakapan, keterampilan, kepribadian, sikap dan orientasi.
Menurut moekijat (1987:3) mengemukakan bahwa ada tiga unsur kualitas yang perlu dikembangkan dari setiap pegawai yaitu:
1.      Keahlian, agar supaya pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif.
2.      Pengetahuan, agar supaya pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.
3.      Sikap, agar supaya timbul kemauan kerja sama dengan teman-teman dengan pimpinannya.
Berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan sumber daya manusia sebaiknya mencakup aspek-aspek:
1.      Kemampuan (kopetensi)
2.      Kemauan (motifasi)
3.      Energi fisik (kesegaran jasmani, kesehatan, dan daya tahan fisik)
Menurut Gibson dkk (1996:127) pengertian kemampuan adalah sifat bawaan yang bisa dipelajari yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu baik yang bersifat mental maupun fisik. Gibson dkk (1996:127) menjelaskan pula bahwa pengertian kemampuan dan keterampilan dapat saling diperlukan. Keterampilan adalah kemampuan yang berhubungan dengan tugas, seperti keterampilan mengoperasikan computer, atau keterampilan berkomunikasi dengan jelas.
Aktifitas mental antara lain mengamati, menanggapi, mengingat, berimajinasi, merasa, dan berfikir. Sedangkan aktifitas fisik antara lain: mengangkat atau menurunkan dan memindahkan sesuatu benda, memecahkan atau mematahkan sesuatu benda (Patty dkk 1987:86)
Atmosoeprapto (2001:37) mengemukakan bahwa kemampuan sumber daya manusia meliputi: kemampuan teknik, kemampuan hubungan antar pribadi dan kemampuan konseptual.
Kemampuan teknik adalah kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan, metode, teknik dan alat yang diperoleh melalui pengalaman, pendidikan dan latihan, untuk melakukan tugas-tugas khusus. Kemampuan hubungan antar pribadi adalah kemampuan menilai orang-orang dan kemampuan bekerja bersama orang. Sedangkan kemampuan konseptual adalah keamampuan mengatahui kekompakan organisasi secara keseluruhan dan peranan dirinya dalam organisasi, bukan sekedar berdasarkan pada sasaran dan kebutuhan dari kelompoknya sendiri Atmosoeprapto (2001:38-39)
Kemampuan mental haruslah diimbangi dengan kemampuan fisik. Menurut Lim (2002:38), orang yang sakit-sakitan atau lemah fisik akan sulit menerima dan melaksanakan tanggung jawab pekerjaan yang besar. Sukses tida bisa dilepaskan dari ketersediaan energi fisik. Sekalipun kita mempunyai ambisi, kepercayaan diri dan strategis yang jitu, namun jika tidak ada kemampuan bertindak, semuanya hanya menjadi mimpi belaka. Karena itu, pelihara kondisi kesehatan dan kekuatan fisik melalui pola hidup sehat, agar anda layak dan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab yang besar.
B.     Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia merupakan salah satu aspek dari pengembangan sumber daya manusia, sedangkan sumber daya manusia adalah salah satu bagian dari mmanajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia mempunyai dua fungsi pokok, yaitu:
(1)   Fungsi manajerial, dan
(2)   Fungsi operasional.
Fungsi manajerial mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. Sedangkan fungsi operasional mencakup pengalaman, pengembangan, kompensasi, pengintegrasikan, pemeliharaan dan pemutuhan hubungan kerja (Husen Umar, 1999:3).
Berdasarkan sistematika di ats, maka pemahaman tentang upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia tidak dapat dilepaskan dari konsep pengembangan sumber daya manusia.
Berkaitan masalah pengembangan Sumber Daya Manusia, para penulis menggunakan istilah yang berbeda-beda. Soeprihanto (1989:43) menggunakan istilah “latihan dan pengembangan”. (Siagian 1987:172) serta Manullang. M dan AMH Manulang (2001:66) menggunakan istilah “latihan dan pendidikan”. Namun demikan, penekanannya sama, yaitu bagaimana mengubah potensi yang terdapat dalam diri seseorang menjadi kemampuan berpikir dan bekerja.
Nedle dalan Swasto (2003:2) mengemukakan bahwa pengembangan sumber daya manusia sebagai pengalaman belajar yang di organisir pada periode waktu tertentu untuk menentukan kemungkinan perubahan kinerja, atau secara umum meningkat kemampuan individi. Selanjutnya Nedler mengemukakan bahwa pengembangan itu direncanakan untuk membantu para individu meningkat, dengan melalui belajar secara umum. Ini berkaitan dengan organisasi maupun individu.
Berkaitan dengan individu, dari peningkatan kemampuan sumber daya manusia itu diharapkan adanya perkembangan dan perubahan kinerja mereka dalam periode waktu yang tertentu.
Selanjutnya, Notoatmodjo (2003:3) membagi pengertian peningkatan suber daya manusia atas dua yaitu:
1.      Secara Makro
Merupakan suatu proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam rangka mencapai tujuan pembangunan  bangsa. Proses peningkatan disini mencakup perencanaan , peningkatan dan pengelolaan sumber daya manusia. 
2.      Secara Makro
Merupakan suatu proses  perencanaan pendidikan, pelatihan dan pengelolaan tenaga dan karyawan untuk mencapai suatu optimal. Hasil ini dapat berupa jasa maupun benda atau uang.
            Louis Emmerij (dikutip dalam Haq dan Kirdar, 1988) dalam Tadjuddin (1995:5) merumuskan pengembangan sumber daya manusia merupakan:L a) Kreasi sumber daya manusia, b) pengembangan dan c) menyusun struktur insentif (upah)  sesuai dengan peluang kerja yang ada. Pengertian ini mengandung upaya untuk memproduksi sumber daya manusia yang berkualitas (terampil dan cerdas) melalui pendidikan formal dan latihan dan pemanfaatan sumber daya tersebut. Aspek lain yang terkandung dalam pengertian ini adalah penyusunan struktur insentif (upah).
            Swasto (2003:74) mengemukakan bnetuk-bentuk pengembangan sumber daya manusia sebagai berikut:
1.      Pendidikan dan Latihan
Pendidikan di desain untuk memungkinkan pekerja belajar tentang pekerjaan yang berbeda di dalam organisasi yang sma. Latihan dikaitkan dengan pekerjaan sekarang. Diharapkan suatu organisasi menyelenggarakan belajar yang berkaitan dengan pekerjaan sekarang dalam usaha peningkatan kemampuan kerja.
2.      Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja adalah banyak macam pekerjaan dan lama kerja untuk masing-masing pekerjaan yang pernah di duduki.
Asumsi utama pengembangan sumber daya manusia menurut siagian (1987 : 18-19) yaitu bahwa manusia adalah mahluk social sekaligus mahluk indi9vidu dengan ciri khas tersendiri. Manusia dapat menjadi modal yang teramat berharga bagi orgaisasi tetapi dapat pula unsur perusak yang efektif. Disatu pihak ia dapat bertindak altruistik (mempertimbangkan kebaikan bersama), dilain pihak dapat pula bertindak egoistik ( mengutamakan kebaikan diri sendiri). Melalui pengembangan, sifat-sifat positif dari manusia itu dapat ditonjolkan, dan sekaligus merupakan usaha sadar untuk menghilangkan atau mengurangi sifat-sifat negative yang ada dalam diri manusia.
Menurut Husen Umar (1999:12) mengemukakan bahwa pengembangan menyangkut banyak aspek seperti : peningkatan dalam keilmuan, pengetahuan, kemampuan, sikap dan kepribadian. Perlunya dilakukan pengembangan disebabkan karena berbagai faktor antara lain : perubahan teknologi, perubahan pekerjaan (pola baru pekerjaan), perubahan peeratuarn hukum, perkembangan ekonomi, tekanan pasar, kebijakan social aspirasi pegawai dan variasi kerja.
Dahlan (1992 : 4) mengemukakan bahwa peningkatan sumber daya manusia tidak terlepas dari peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Mengemukakan bahwa kualitas manusia terdiri dari atas dua kelompok, yaitu :
1.      Kualitas fisik, mencangkup : kegaran jasmani, kesehatan serta daya taha fisik yang memungkinkan manusia melakukan kegiatan yang produktif.
2.      Kyalitas non-fisik, mencangkup : kualitas kepribadian, kualitas bermasyarakat, kualitas berbangsa, kualitas spiritual wawasan lingkungan, dan kualitas kekaryaan.
Kualitas fisik dapat ditingkatkan melalui latihan fisik dan pemenuhan kebutuhan fisiologis (makan, minum, udara, abat-obatan) dalam jumlah dan kualitas yang memadai sesuai kebutuhan. Sedangkan kualitas non fisik memerlukan penanganan yang multi dimensi dan sistematis (dahlan, 1992 : 4).
Silalahi, T.B (1998:53-54) mengemukakan bahwa untuk meningkatkanprofesinalisme para aparatur perlu dilihat dari proses pengadaan, pembinanaan, hingga pension. Masalah pengadaan atau redkrutmen merupakan masalah yang sangat vital. Bila proses rekrutmen berjalan dengan baik, secara teoritis akan dapat dijaring calon-calon pegawai yang tidak memenuhi syarat. Proses pembinaan pegawai mencangkup pembinaan karier, pendidikan dan latihan dan peningkatan kesejahteraan.
Buchari Zainun mengemukakan bahwa peningkatan kualitas dimaksudkan untuk berbagai keperluan serperti :
1.      Menyiapkan seseorang agar pada saatnya diberi tugas tertu yang belum tahu secara khusus apa tugas itu dengan harapan akan mampu bila mana diserahi tugas yang sesuai.
2.      Memperbaiki kondisi seseorang yang sudah diberi tugas dan sedang menghadapi tugas tertentu yang merasa ada kekurangan pada dirinya untuk mengemban tugas itu sebagaimana mestinya.
3.      Mempersiapkan seseorang untuk diberi tugas tertentu yang sudah pasti, yang syarat-syaratnya lebih berat dari tugas yang dikerjakan sendiri.
4.      Melengkapi seseorang dengan hal-hal apapun yang mungkin timbul diseputar tugasnya baik yang langsung maupun yang tifdak lansung berpengaruh terhadap pelaksanaan tugasnya.
5.      Menyesuaikan kepada seseorang tugas-tugas yang mengalami perubahan karena perubahanya syarat-syarat untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan itu secara sebagian atau seluruhnya.
6.      Menambah keyakinan dan percaya diri kepada seseorang bahwa dia adalah orang yang benar-benar cocok untuk tugas sedang diembannya.
7.      Meningkatkan wibawa seseorang dari pandangan bawahan maupun orang lain baik teman sejawat maupun para relasinnya.
Menurut Lim (2002:38) kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang baik dan cara yang benar diperoleh dari proses belajar maupun pengalaman. Sedangkan kemampuan fisik dipelihara melalui pola hidup sehat dan konsumsi nutrisi yang seimbang.
Metode umum yang digunakan untuk melakukan pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan dan pelatihan (Siagian, 1987 :172; Manullang. M dan AMH Manulang, 2001:66)
Pendidikan adalah keseluruhan proses, tekhik dan metode belajar mengajar dalam rangka mengalihkan sesuatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain. Sedangkan latihan adalah proses untuk membentuk, meningkatkan dan mengubah pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingka laku agar dapat mencapai standar tertentu (syarif, 1991:12)
Pendapat yang hamper sama dikemukakan oleh Jhon Soeprihanto (1989:47). Menurut Soeprihanto, pendidikan adalah kegiatan untuk memperbaiki kemampuan seseorang karyawan dengan cara meningkatkan pengetauhuanya umumnya. Latihan adalah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan dan keterampilan seseorang karyawan dalam menjalankan suatu pekerjaan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa latihan tidak dapat dibedakan secafra tegas dari pendidikan :
(1)   Diklat ditempat kerja (on-the job training), tekniknya adalah :
a)      Demonstrasi (praktek penyelesaian sesuatu)
b)      Mengerjakan sendiri
c)      Rotasi (perputaran) kerja
d)     Bacaan selektif
e)      Penugasan dalam bentuk panitia
f)       Magang
g)      Briefing
(2)   Diklat diluar tempat kerja (off-the job training), tekniknya adalah :
a)      Ceramah
b)      Studi kasus
c)      Permainan peran
d)     Diskusi kelompok
e)      Kaji tindak
f)       Simulasi
g)      Kursus, penataran
h)      Sekolah format (tugas pelajar)
i)        Pertemuan khusus (Umar, 1999: 13-14 ; Soeprihanto, 1989:49).

Upaya- upaya tersebut perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan keahlian dan keterampilan kerja pegawai
Berdasarkan atas konsep atau pengertian diatas menunjukkan bahwa peningkatan sumber daya manusia ialah upaya untuk meningkatkan kemampuan manusia dengan memberikan kesempatan kerja yang seluas-luasnya kepada pegawai untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang cukup bagi seluruh pegawai harus menjadi focus bagi organisasi, dengan demikian peningkatan sumber daya manusia mencakup pengendalian, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya manusia itu sendiri.
Secara konseptual oleh Soekidjo Notoatmodjo (2003 : 28) pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Penggunaan istilah pendidikan dan pelatihan dalam suatu institusi atau organisasi biasanya disatukan menjadi diklat (pendidikan dan pelatihan). Unit yang menangani pendidikan dan pelatihan pegawai atau karyawan lazim disebut pusdiklat (pusat pendidikan dan pelatihan).
Tujuan pendidikan dan pelatihan untuk para pegawai atau karyawan diarahkan untuk membina kemampuan dan keterampilan kerja sesuai dengan bidang tugasnya  masing-masing, atau dengan kata lain pendidikan dan pelatihan bagi pegawai atau karyawan adalah untuk meningkatkan pengabdian, keahlian dan keterampilan serta menciptakan pola pikir, sikap dan perilaku yang sama dengan mengembangkan metode-metode kerja yang baik.

C.    Konsep Efektifitas Pegawai
Kata efektifitas berasal dari kata efektif (Gibson dkk, 1992). Pengertian kata efektif adalah keadaan yang mengandung makna mengenai terjadi suatu efek atau akibat yang dikehendaki (Nitisemito, 1992).
Pada dasarnya masalah efektifitas adalah hal-hal yang berkenaan dengan keberhasilan suatu organisasi mencapai produktivitas yang tinggi (Mulyadi, 1998). Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa efektifitas organisasi berkaitan dengan prestasi organisasi secara keseluruhan.
Batasan lain dikemukakan bahwa efektifitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian, 1992). Sehubungan dengan hal tersebut, hidayat (1985) menjelaskan pula bahwa efektifitas adalah ukuran yang menyertakan seberapa jauh tingkat kualitas, kuntitas dalam waktu yang telah dicapai.
Menurut Westra dkk. (1982), efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendakinya, maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat sebagaimana dikehendaki. Menurut Dann Suganda (1992) memberikan pengertian istilah efektif diterjemahkan berbagai guna, dapat mencapai sasaran atau dapat menghasilkan sesuatu yang ditentukan. Sikap organisasi harus mampu mencapai sasaran termasuk administrasi yang efektif, dapat berjalan atau dapat diterapkan dan berhasil dengan baik. Efektifitas berarti keadaan berhasilnya mencapai sasaran yang sungguh berguna, karena itulah efektifitas disebut pula berhasil guna.
Dengan demikian dari konsep pemikiran diatas bahwa efektifitas mengandung arti manfaat yang optimal sebagai hasil dari suatu proses. Dengan kata lain bahwa apa yang dikerjakan atau apa yang dihasilkan tersebut mempunyai kualitas.
Etzioni (1985) mengemukakan, efektifitas organisasi diukur dari tingkat sejauh mana ia berhasil mencapai tujuannya. Siagian (2000) menyatakan bahwa efektifitas biasanya diartikan sebagai tingkat output yang sesungguhnya dari system yang bersangkutan dibandingkan dengan output yang diinginkan.
Salah satu kritetia yang penting dalam administrasi Negara adalah efektifitas. Biasanya istilah efektifitas ini digunakan bersamaan dengan efisiensi dan rasionalitas (Handayaningrat, 1993 : 4). Kata efektifitas berasal dari kata efektif (Gibson dkk, 1996 :29). Pengertian kata efektif adalah keadaan yang mengandung makna mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki ( Alex S. Nitisemito, 1992 : 207).
Efektifitas kerja merupakan nilai dan keadaan yang ingin dicapai maka wujudkan oleh setiap organisasi atau instansi pemerintah. Melalui efektifitas kerja maka setiap organisasi dapat mempertahankan eksistensinya dengan melancarkan operasi-operasinya. Jadi efektifitas kerja pada dasarnya adalah ketepatan dalam pelaksanaan dan penyelesaian tugas sesuai waktu yang telah ditetapkan sebelumnya dalam suatu organisasi bukan ukuran kuantitatifnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk mencapai suatu tingkat efektifitas dalam proses pencapaian tujuan dalam suatu organisasi baik itu organisasi pemerintah maupun swasta sangatlah didukung oleh peralatan yang mana dari kemampuan dan keterampilan serta loyalitas dari semua unsur yang terlibat dalam organisasi yang bersangkutan, disamping itu suatu pekerjaan dikatakan efektif bila tercapainya berbagai sasaran yang telah ditetapkan tepat pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber tertentu yang dialokasikan untuk melakukan berbagai kegiatan yang dimaksud.
The Liang Gie (1993 : 19) mengatakan bahwa efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau orang melakukan efektif apabila menimbulkan akibat atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki. The Liang Gie (2002 : 108) mengartikan efektifitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditentukan atau kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan hasil guna yang diharapkan.
Hidayat dan Sucherly (1986 : 87) mengemukakan bahwa efektifitas merupakan konsep pengukuran yang memperbandingkan realisasi dengan target yang ingin dicapai. Semakin besar rasio antara ralisasi dengan target, maka semakin tinggi tingkat efektifitasnya pelayanan organisasi pemerintah.
Siagian S.P (1987 : 14) menyatakan bahwa efektifitas biasanya diartikan sebagai tingkat output yang sesungguhnya dari system yang bersangkutan dibandingkan dengan output yang diinginkan.
Menurut Pariata Westra, dkk (1989 : 108), efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau seorang melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendakinya, maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat sebagaiman kehendaki.
Arturo Israel (1992 : 15-16) menjelaskan bahwa organisasi dikatakan relative efektif kalau memang mencapai tujuan yang benar, meskipun dengan biaya yang tinggi. Sedangkan menurut Etizoni (1985 : 12), efektifitas organisasi diukur dari tingkat sejauh mana ia berhasil mencapai tujuannya.
Gibson (1996  : 29-30) mengidentifikasi 3 tingkat analisis efektivitas, yakni: individual, kelompok, dan organisasi. Masing-masing tingkat efektivitas tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Efektivitas individual menekankan pada kinerja tugas dari karyawan tertentu atau anggota organisasi. Tugas yang harus dikerjakan merupakan bagian pekerjaan atau posisi dalam organisasi. Manajer secara rutin menilai efektifitas individu melalui proses efaluasi prestasi untuk menentukan siapa yang akan menerima kenaikan gaji, promosi, dan balas jasa yang lain yang tersedia dalam organisasi.
Efektifitas kelompok adalah jumlah skontribusi seluruh anggota. Sebagai contoh, sekelompok ilmuwan bekerja sendiri pada pekerja yang tidak saling berkaitan akan menjadi efektif kalau masing-masing ilmuwan tersebut efektif.
Efektifitas organisasi terdiri dari efektifitas inidividu dan kelompok. Melalui efek sinergi, organisasi mendapatkan tingkat efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan penjumlahan bagian-bagiannya.
Istilah efektifitas kerja menurut Westra, dkk. (1989 : 108), mempunyai pengertian keadaan atau kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan. Untuk menilai apakah tercapainya efektifitas kerja, dipakai empat pertimbangan :
1.      Pertimbangan-pertimbangan ekonomi ; misalnya jumlah atau mutu asli.
2.      Pertimbangan-pertimbangan fisiologi ; misalnya akibat kerja terhadap kesehatan karyawan atau banyaknya kecelakaan-kecelakaan jasmani.
3.      Pertimbangan-pertimbangan psikologi ; misalnya pengaruh kerja terhadap rasa letih, atau kepuasan karyawan terhadap kerja itu.
4.      Pertimbangan-pertimbangan social ; misalnya kedudukan dalam masyarakat atau kebahagiaan dan penyesuaian diri dalam kehidupan keluarga.
Pariata Westra dkk. (1989 : 108) memberikan contoh bahwa apabila suatu kerja menimbulkan gangguan pada tempat bidang yang dijadikan bahan pertimbangan itu, misalnya seorang pejabat walaupun gajinya besar dan kedudukannya tinggi tapi apabila terus- menerus harus bertugas ke luar kota  sehingga kehidupan keluarganya tidak bahagia, maka tidak dapat dikatakan bahwa telah tercapai efektifitas kerja.
Menurut Handayaningrat (1993 : 7), efektifitas kerja adalah ketetapan dalam melaksanakan suatu tugas menurut waktu yang telah ditentukan. Siagian (1988 : 151) mengemukakan bahwa efektifitas kerja berarti menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya yang telah ditetapkan.
Almasidi dalam Emil (1996 : 96) mengemukakan bahwa efektifitas adalah ketetapan suatu tindakan atau kesempurnaan (jaminan) hasil suatu pekerjaan itu sendiri. Selanjutnya ia mengatakan bahwa pengertian tersebut erat hubungannya dengan sikap mental dan kualitas sumber daya manusia. Dengan kata lain, setiap personel harus memiliki prinsip bahwa sertiap pekerjaan harus dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan dengan berbagai penghematan pemakaian waktu, pemakaian bahan, dan dengan mengupayakan mutu dari hasil pekerjaan. Penumbuhan etos kerja semacam ini diperlukan agar, selain dapat meningkatkan efektifitas kerja, juga bisa merubah budaya kerja yang mengarah bukan lagi pemenuhan kebutuhan pokok tetapi lebih mengarah pada pencapaian efektifitas kerja yang mencapai hasil dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan.







D. Kerangka Pikir
 Kerangka pikir dalam penelitian ini, adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan kerja dengan memberikan kesempatan pegawai melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia. Peningkatan kualitas sumber daya aparatur merupakan hal yang paling diingikan oleh suatu organisasi, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan sumber daya aparaturnya karena aparatur yang berkualitas dapat mengantarkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang diiginkan. Menurut Siagian (1991 : 72) bahwa metode yang umum digunakan untuk mengembangkan sumber daya manusia adalah melalui pendidikan dan pelatihan.
Efektifitas kerja pegawai dalam penelitian ini merupakan suatu keadaan yang diiginkan mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki dari suatu perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan. Efektifitas kerja merupakan perbandingan realisasi dengan target yang ingin dicapai. Untuk lebih jelasnya penulis menggambarkan kerangka pikir dibawah ini :








Skema 1
Kerangka Pikir

Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia :
a.       Pendidikan
b.      Pelatihan dan Khursus
(Hasil modifikasi dari berbagai sumber)


Efektifitas Kerja Pegawai :
a.       Tingkat Ketelitian Pegawai
b.      Tingkat Ketepatan Waktu
c.       Tingkat Pencapaian Sasaran Tugas Bidang Pelayanan Administrasi
d.      Tingkat Penerapan Disiplin Kerja
(Hasil modifikasi dari berbagai sumber)
    .



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini yaitu pada kantor kecamatan Kadatua Kabupaten Buton dengan pertimbangan terdapat indikasi belum maksimalnya tingkat efektifitas kerja pegawai.
B.     Populasi dan Sampel
Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai negeri sipil pada Kantor Kecamatan Kadatua yang berjumlah 15 orang. Oleh karena jumlah tersebut dapat dijangkau, maka keseluruhan populasi dijadikan responden dalam penelitian ini jadi tidak ditarik sampel sehingga seluruh populasi ini dijadikan responden. Untuk mendukung data yang ada, maka dalam penelitian ini ditetapakan pula informan yaitu Camat dan Sekcam pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton.
C.    Teknik Pengumpulan Data
Adapun metodedan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.      Studi Kepustakaan, merupakan data untuk memperoleh kajian teoritis melalui buku-buku, literature, dokumen dan laporan yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.
2.      Studi Lapangan, merupakan pengumpulan data secara langsung pada lokasi dan objek penelitian, yang dilaksanakan dengan teknik sebagai berikut :
a.       Kuesioner yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengedarkan pertanyaan tertulis kepada para respoden.
b.      Wawancara yaitu melakukan Tanya jawab langsung dengan informan dalam penelitian ini dengan menggunakan pedoman wawancara.
c.       Dokumentasi yaitu mengambil data yang telah didokumentasikan oleh pihak instansi terkait dalam bentuk laporan.
D.    Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini dilakukan teknik analisis data secara deskriptif kualitatif yaitu data yang dikumpulkan, dianalisis yang kemudian hasil dan pengolahannya akan dipaparkan berdasarkan gambaran ataupun penjelasan secara sistematis sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.









E.     Definisi Operasional
Upaya peningkatan SDM didefinisikan sebagai upaya terencana yang dilakukan oleh kantor Kecamatan Kadatua untuk meningkatkan kapasitas pegawai dalam melaksanakan pekerjaan dalam bentuk :
(1)   Pendidikan,
Pendidkan yang dimaksud, ialah kemampuan proses, teknik dan metode belajar mengajar lam rangka mengahlikan sesuatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain.
(2)   Pelatihan,
Pelatihan yang dimaksud adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan pegawai dengan menjalankan pelajaran dan pemahaman sesuaikan bidang pekerjaannya.
Efektifitas kerja didefinisikan sebagai penyelesaian pekerjaan secara tepat waktu yang diukur dari :
(1)   Tingkat ketelitian pegawai
Tingkat ketelitian pegawai yang dimaksud adalah, kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas tampa ada kesalahan-kesalahan.
(2)   Tingkat pencapaian sasaran tugas bidang pelayanan administrasi yang dimaksud adalah kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas-tugas untuk mencapai target yang telah ditentukan, sehingga para pegawai dapat melaksanakan tugas dngan baik.
(3)   Tingkat ketepatan waktu
Tinkat ketepatan waktu yang dimaksud adalah penerapan disiplin pegawai menyelesaikan tugas sesuai waktu yang telah ditetapkan sehingga tidak ada tunggakan kerja.
(4)   Tingkat penerapan disiplin kerja
Tingkat penerapan disiplin kerja yang dimaksud adlah penerapan disiplin kerja melalui kedisplinan peraturan kedinasan dan perintah atasan.
















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.      Sejarah Singkat
Sebagai wilayah Pemerintahan Kabupaten Buton, Sejarah Kecamatan Kadatua tidak terlepas dari sejarah terbentuknya Kabupaten Buton.  Pada saat awal terbetuknya Kabupaten Buton, Kecamatan Kadatua masih bergabung dengan Kecamatan Batauga.
Namun seiring dengan pertumbuhan dan dinamika masyarakat yang semakin meningkat, serta untuk menjawab tuntutan perbaikan kualitas pemberian pelayanan kepada masyarakat dan percepatan pembangunan Kecamatan Batauga, maka setelah dilakukan pertemuan antara Tim Pemekaran Kecamatan, Camat, Ketua LPM dan Tokoh-tokoh masyarakat pada tanggal 5 Februari 2003 dengan rahmat Allah SWT, ditetapkan peraturan daerah tentang pembentukan Kecamatan Kadatua hasil dari pemekaran Kecamatan Batauga, yang kemudian tanggal 5 Februari 2003 disepakati sebagai hari lahirnya kecamatan kadatua. (Wawancaran dengan Camat Kadatua 9 Januari 2014)
Kecamatan Kadatua dengan luas wilayah 32,82 km2 atau sekitar 1,31 persen dari luas daratan Kabupaten Buton. Secara Administratif Kecamatan Kadatua berbatasan dengan :
1.      Sebelah Utara berbatasan dengan laut Flores
2.      Sebelah Timur berbatasan dengan selat Masiri
3.      Sebelah Selatan berbatasan dengan selat Siompu
4.      Sebelah Barat berbatasan dengan laut Flores
Sebelum terbentuknya Kecamatan Kadatua hanya terdiri dari Enam Desa, yakni : Desa Banabungi, Desa Lipu,Desa Uwemasi,Desa Kaofe,Desa Waonu, dan Desa Kapoa. dengan seiring berjalanya waktu dan Untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Kadatua, sehingga pada tahun 2006 beberapa Desa dimekarkan. Adapun desa yang yang berada dikecamatan kadatua sampai sekarang terdiri dari :
1.      Desa Banabungi dengan luas wilayah 4,13 km2
2.      Desa Banabungi Selatan dengan luas wilayah 2,15 km2
3.      Desa Lipu dengan luas wilayah 7,08 km2
4.      Desa Uwemasi dengan luas wilayah 2,90 km2
5.      Desa Kaofe dengan luas wilayah 1,39 km2
6.      Desa Marawali dengan luas wilayah 7,00 km2
7.      Desa Mawambunga dengan luas wilayah 1,50 km2
8.      Desa waonu dengan luas wilayah 1,76 km2
9.      Desa Kapoa Barat dengan luas wilayah 2,40 km2
10.  Desa Kapoa dengan luas wilayah 2,51 km2
Jumlah penduduk Kecamatan Kadatua berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2013 adalah 10.587 jiwa yang terdiri dari 5.365 laki-laki dan 5.222 jiwa perempuan.


2. Keadaan pegawai
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukan keadaan pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton yang berstatus PNS sebanyak 15 orang. Untuk mengetahui lebih jelas keadaan pegawai Negeri Sipil pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton, berikut ini penulis menyajikan data mengenai rincian Pegawai Negeri Sipil menurut jumlah, golongan kepangkatan dan tingkat pendidikan.
Keadaan Pegawai Negeri Sipil pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton Dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua menurut Jumlahnya Tahun 2013
No
Satuan/ Unit Kerja
Jumlah Pegawai
Presentase (%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Kepala Kantor Kecamatan Kadatua
Sekretaris Camat
Seksi Pembagunan
Seksi Pemerintahan dan Pelayanan umum
Seksi Ketentraman dan Ketertiban
Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian keuagan dan Perlengkapan
Staf
1
1
1
1
1
1
1
1
7
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
6,66
46,66

Jumlah
15
100
Sumber data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel 2 dijelaskan bahwa keadaan Pegawai Negeri Sipil dalam satuan unit kerja pada Kantor Kecamatan Kadatua terdiri dari Camat sebanyak 1 orang (6,66 %) Sekertaris Camat, Seksi Pembagunan, Seksi Pemerintahan dan Pelayanan Umum, Seksi Ketentraman dan Ketertiban, Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra, Sub Bagian Keungan dan Pe3rlengkapan masing-masing terdiri 1 orang (6,66%) dan Staf sebanyak 7 orang (46,66%)
Selanjutnya Untuk Mengetahui keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua Menurut Golongan ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 3. Keadaan Pegawai Negeri Sipil kantor Kecamatan Kadatua Menurut Golongan Tahun 2013
No
Golongan
Jumlah Pegawai
Presentase%
1
2
3
IV
III
II
1
4
10
6,66
26,66
66,66

Jumlah
15
100
Sumber data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel 3 dijelaskan Bahwa mayoritas Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada Kantor Kecamatan Kadatua berstatus golongan II yang berjumlah 11 orang (66,66%), kemudian disusul oleh pegawai yang berstatus golongan III sebanyak 4 orang (26,66%) sedangkann status golongan IV hanya berjumlah 1 orang (6,66%). Kemudian untuk mengetahui keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua menurut tingkat pendidikan dapat ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel 4. Keadaan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua Menurtu Tingkat Pendidikan Tahun 2013
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah Pegawai
Presentase
1
2
SLTA/Sederajat
S1
13
2
86,66
13,33

Jumlah
15
100
Sumber data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel 4 Menunjukan bahwa tingkat pendidikan Pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua sudah cukup memadai, dimana Pegawai Negeri Sipil yang perpendidikan SLTA/Sederajat berjumlah 13 orang (86,66%) Sedangkan pegawai yang berpendidikan  Sarjana berjumlah 2 orang (13.33%).
3. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kecamatan Kadatua
Struktur organisasi merupakan gambaran mekanisme kerja secara visual sehingga tugas pokok dan fungsi masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur organisasi tersebut menjadi lebih jelas. Adapun struktur organisasi Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton sesuai dengan SK Bupati Buton Nomor 33 Tahun 2008 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja kerja Kecamatan Kadatua Kabupaen Buton adalah sebagai berikut :

Skema
Struktur Organisasi Kantor Kecamatan Kadatua Tahun 2008
Camat

 



Sekretaris Kecamatan
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan
Kelompok Jabatan Fungsional
Seksi Pemerintahan dan Pelayanan Umum
Seksi Ketentraman dan Ketertiban
Seksi Pembagunan
Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra
 


















Berdasarkan skema strukturr organisasi, maka tugas pokok dan fugsi masing-masing bagian yang ada disesuaikan dengan SK Bupati Buton No. 33 tahun 2008 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja kecamatan kadatuakabupaten Buton dijelaskan sebagai berikut :
1.      Kepala Kecamatan
Camat mempunyai tugas membantu Bupati dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. Untuk menyelenggarakan tugas sebagiamana dimaksud didalam peraturan perundang-undangan, camat mempunyai fugsi sebhagai berikut :
a.       Pelaksanaan pelimpahan sebagian kewenagan pemerintah yang diserahkan langsung oleh pemerintah Kabuapaten.
b.      Pelayanan peneylenggaraan pemerintahan kecamatan
c.       Pelaksanaan Koordinasi terhadap seluruh unit kerja di kecamatan
d.      Pelaksanaan urusan kesekretariatan
e.       Pelaksnaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
2.      Sekretaris Camat
mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas camat dalam melakukan pembinaan dan pengelolaan administarsi, memberikan pelayanan teknis adminstrasi dan kesekretariatan kepada seluruh satuan kerja dilingkungan kantor kecmatan yang meliputi surat-menyurat dan arsip, kepegawaian dan ketatalaksanaan, keuangan, umum dan perlengkapan, kehumasan dan protol serta menyusun laporan atas penyelenggaraan pemerintahan pembangunan dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan., sekertaris kecamatan juga mempunyai fungsi yaitu :
a.       Pelaksanaan urusan kesekretariatan yang meliputi pengelolaan urusan surat menyurat dan arsip, hukum, pengelolaan perlengkapan dan rumah tangga. Pendidikan dan pelatihan serta pelaksanaan urusan kehumasan dan protokol.
b.      Pelaksanaan urusan administarsi keuangan, perbendaharaan dan penyusunan anggaran
c.       Pelaksanaan urusan kepegawaian dan tatalaksana
d.      Pelaksanaan pensunan laporan penelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kehidupan kemasyaarakatan.
e.       Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh camat.
3.      Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Mempunyai tugas memngumpulkan bahan pedoman petunjuk teknis, melaksanakan urusan kesekretarian, surat menyurat dan arsip kepegawaian hukum dan tata laksana, urusan kehumasan dan protokol serta pendidikan dan pelatihan.
4.      Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan
Mempunyai tugas mengumpulkan bahan pedomanan petunjuk teknis, penyusunanan rencana dan program, pengelolaan administrasi keuangan, perbendaharaan dan penyusunan anggaran serta pengelolaan perlengkapan dan rumah tangga.
5.      Seksi Pemerintahan dan Pelayanan Umum
Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas camat yang meliputi pemerintahan umum, kelurahan dan desa, melaksanakan urusan administrasi kependudukan dan catatan sipil, pembinaan politik dalam negeri, pembinaan supremasi hukum dan admkinistarasi pertanahan serta pelaksanakan urusan pelayanan umum.disamping itu juga mempunyai fungsi yaitu :
a.       Pelaksanaan penyusunan program pembinaan penyelenggaraan pemerintahan umum kelurahan dan desa.
b.      Pelaksanaan penyusanan program pembinaan administrasi dan pelaporan perkembangan kepedudukan dan catatan sipil serta inventarisasi kekayaan kecamatan adan kelurahaan/desa.
c.       Pelaksanaan penyusunan program, pembinaan supremasi hukum dan administrasi pertanahan serta kekayaan, kebersihan, pertamanan, dan sanitasi lingkungan.
d.      Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh camat.
6.      Seksi Ketentraman dan Ketertiban
Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas camat yang meliputi pelaksanaan pembinaan dan ketentaram dan ketertiban. Disamping itu juga menyelenggarakan fungsi :
a.      Pelaksanaan penyusunan program dan pembinaan penyelenggaraan aparat ketertiban dan polisi pamong praja.
b.      Pelaksanaan penyusunan program dan penyelenggaraan pembinaan ketentraman dan keteriban umum serta tertib perizinan.
c.      Pelaksanaan yugas lain yang diberikan oleh Camat.
7.      Seksi Pebangunan.
Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Camat dalam mengumpulkan dan menyiapakan bahan teknis perencanaan program, melaksanakan dan mengkoordinasikan penyusunan rencana pebangunan, melakukan pemantauan, evaluasi dan pelaaporan atas jalannya pogram pembangunan serta melakukan bembinaan terhadap penyelenggaraan pembangunan dibidang perekonomian yang meliputi pembianaan produksi, distibusi dan lingkungan hidup. seksi pembangunan juga mempunyai fungsi yaitu:
a.      Pelaksanaan penyusunan rencana dan program serta pembinaan penyelenggaraan pembangunan.
b.     Pelaksanaan pemantauan, pengendalian, evaluasi, dan pelaporan atas penyelenggaraan kegiatan pembangunan.
c.      Pembinaan perekonomian menyangkut produksi dan distribusi yang meliputi penyelenggaraan pembianaan perbangkan, perkreditan rakyat, koperasi dan usaha kecil, perindustrian dan perdagangan, usaha informal, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kehutanan serta peningkatan kelancaran distribusi hasil produksi.
d.     Pelaksanaan tugas lain yang diberikan camat.

8.      Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra
Mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas camat dalam mengumpulkan dan menyiapkan bahan petunjuk teknis, melakukan penyusunan rencana dan program serta kegiatan pembinaan masyarakat dan kesra, mental spritual dan kegiatan urusan kemasyarakatan dan kesra lainnya sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku, seksi pemberdayaan masyarakat dan kesra juga  mempunyai fungsi :
a.       Pelaksanaan penyusunan program dan pembinaan pelayanan masyarakat dan kesra yang meliputi bantuan sosial, pemberdayaan perempuan, KB dan kesehatan masyarakat.
b.      Pelaksanaan penyusunan program dan pembinaan kehidupan keagamaan, pendidikan dan kebudayaan serta kepemudaan dan olah raga.
c.       Pelaksanaan penyusunan program dan pembinaan kegiatan kemasyarakatan dan kesra lainnya.
d.      Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Camat.
4.  Keadaan Sarana dan Prasarana Kantor Kecamatan Kadatua
            Salah satu faktor penunjang dalam pelaksanaan berbagai aktifitas pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua adalah tersedia berbagai sarana dan prasarana kerja yang dapat menunjang aktifitas kerja pegawai gunamemperlancar pencapaian tujuan organisasi.
Adapun berbagai saranan dan prasarana pendukung pelaksanaan kerja pada kantor Kecamatan Kadatua dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5. Keadaan sarana dan prasarana kerja pada kantor kecamatan Kadatua tahun 2013.
No
Jenis peralatan / Barang
Jumlah
Keterangan
1.
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Mobil Dinas
Motor Dinas
Komputer
Lemari bufet
Meja Biro
Kursi tamu
Rak Buku
Lemari arsip
Mesin ketik
Peta wilayah kecamatan
Kursi Plastik
Mesin potong rumput
Genset
Papan Struktur Kecamatan
1
2
2
2
2
1
2
3
2
1
17
2
1
1
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sumber data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel 5 menunjukan bahwa pada dasarnya keadaan sarana dan prasarana penunjang yang dimiliki oelh kantor kecamatan kadatua suduh cukup memadai dalam mendukung tugas organisasi tetapi seiring dengan perkembangan waktu dengan kondisi kerja yang semakin  besar dan kompleks maka sarana dan prasarana penunjang tersebut agar selalu diperhatikan keadaannya sehinga pelaksanaan tugas-tugas organisasi kedepannya tetap berjalan dengan  baik.
B. Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia
berikut ini akan diuraikan hasil penelitian mengenai upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
1.      Pendidikan Lanjutan.
Dalam upaya peningkatan efeektifitas kerja pegawai, maka kantor kecamatan kadatua memberikan kesempatan pada pegawainya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan persyaratan bahwa dalam mengikuti pendidikan tersebut baik tugas pegawai yang bersangkutan maupun tugas-tugas kedinasan, pada unit yang bersangkutan tidak tergganggu pelaksanaannya.
Kemudian untuk mengetahui keadaan pegawai Negeri Sipil Kantor Kecamatan Kadatua menurut jenjan pendidikan yang mengikuti pendidikan lanjutan dapat ditampilkan pada tabel berikut :


Tabel 6 : karakteristik responden berdasarkan jenjang pendidikan pada kantor kecamatan Kadatua tahun 2013
No
Jenjang pendidikan
Jumlah Pegawai
Presentase %
1
2
3
SLTA/Sederajat
Diploma
S1
13
-
2
86,66
-
13,33

Jumlah
15
100
Sumber data : Kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel 6 menunjukan bahwa tingkat jenjang pendidikan pegawai Negeri Sipil yang mengikuti pendidikan lanjutan dikantor kecamatan kadatua Kabupaten Buton yang perpendidikan SLTA 13 orang atasu (86,66 %). Yang perpendidikan S1 sebanyak 2 orang (13,33 %) sedangkan yang berpendidikan diploma tidak ada.
Keberadaan tingkat pendidikan tersebut sangat menunjang kegiatan aktifitas pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton meskipun demikian tingkat pendidikan pegawai  masih perluh ditingkatkan, karena masih terdapat 86,66 % memiliki tingkat  SLTA. (Wawancara dengan Camat Kadatua Drs. Harsila, 9 Januari 2014)
Berikut ini akan disajikan mengenai tanggapan responden tentang pelaksanaan pendidikan lanjutan yang mempengaruhi efektifitas kerja Pegawai Kantor Kecamatan Kadatua.

Tabel 7 : tanggapan responden tentang pelaksanaan pendidikan lanjut yang mempengarui efektifitas kerja pegawai.
No
Tanggapan responden
Jumlah
Presentase%
1
2
3
Berpengaruh
Cukup Berpengaruh
Tidak berpengaruh
8
5
2
53,3
33,3
13,4

Jumlah
15
100
Sumber data : kantor Kecamatan Kadatua 2013
Tabel 7 dilihat bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 8 orang responden atau sebesar 53,3 % mengatakan bahwa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi berpengaruh terhadap efektifitas kerja di Kantor Kecamatan Kadatua, sebanyak 5 orang responden atau sebesar 33,3 % mengatakan cukup berpengaruh, sedangka 2 orang responden atau sebesar 13,3 % mengatakan tidak berpengaruh.
Hal tersebut diatas diperkuat dengan hasil wawancara dengan Sekretaris Camat, ketika penulis menanyakan tentang pengaruh efektifitas kerja pegawai yang melanjutkan pendidikan efektifitas kerjanya meningkat, hal ini dapat dilihat dimana pegawai yang melanjutkan pendidikan lebih mudah menerima, memahami dan melaksanakan tugas-tugas atau pekerjaan yang diberikan kepadanya. (Wawancara 9 Januari)
2.      Pelatihan Dan Khursus
Kantor kecamatan Kadatua Kabupaten Buton pada khususnya Camat Kadatua memberikan pelatihan dan khursus terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan pegaiwanya. Misalkan pelatihan dalam percetakan KTP dan kartu Keluarga, hal ini terbukti dengan diberikanya kesempatan kepada pegawainya , untuk mengikuti pelatihan kerja bagi pegawainya, dan memberikan kesempatan untuk mengikuti khursus yakni pendidikan jalur singkat.  
Tujuan utama pemberian pendidikan jalu singkat kepada pegawai kecamatan kadatua adalah agar pegawai mampu menggunakan dan mengoprasikan berbagai peralatan moderen yang dalam organisasi tempat melakanakan tugas. Dengan demikian tugas-tugas operasional sehari-sehari, akan dengan mudah dilaksanakan dan pada akhinya pencapaian tujuan suatu organisasi dapat dicapai secara optimal.
Hasil kajian dokumentasi yang dilakukan oelh penulis pada Kantor Kecamatan Kadatua tercatat bahwa 15 orang pegawai telah mengalami peningkatan melalui pelatihan dan khursus, untuk lebih jelasnya bdapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 8 : jenis pelatiahan dan khursus yang diikuti oleh pegawai kantor kecamatan kadatua tahun 2005-2013
No
Jenis pelatihan yang diikuti
Jumlah
Persentase %
1
2
3
Diklat Teknis
Diklat struktural
Khursus Komputer
5
6
4
33,3

26,7

Jumlah
15
100

Bagi pegawai yang mengikuti pelatihan diklat teknis untuk meningkatkan keterampilan/skil yang dapat menunjang pelaksanaan tugas gas-tugas terutama untuk tugas yang menyangkut penyelenggaraan administrasi pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton agar dapat melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari dalam memberikan pelayanan secara efektif dan efisien baik sebagai staf maupun sebagai pimpinan.
Adapun diklat teknis yang pernah diikuti pegawai Kecamatan Kadatua pada tahun 2011-2012 adalah khurusus manajemen kearsipan. Khursus-khursus manajemen kerasipan bertujuan untuk memberikan pendidikan dan pelatiahan kepada para pegawai, menyangkut pengelolaan administrasi kearsipan yang diharapkan melalui diklat ini para pegawai mempunyai kemamampuan dalam menyusun arsip secara rapi dan sistematis. Sedangkan diklat perjenjangan atau struktural dilaksanakan untuk mengembangan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan pegawai dalam menjalankan tugas.
Selanjutnya bagi para pegawai yang mengikuti khursus komputer diharapkan mampu mengoprasikan, menggunakan komputer sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan tugas-tugas kantor yang berhubungan dengan pelayanan dan administrasi kantor. Kursus komputer ini dilaksanakan selama 3 bulan dan diikuti oleh 4 orang.
Berikut ini akan disajikan data mengenai tanggapan responden terhadap efektifitas kerja pegawai setelah mengikuti pelatihan dan khursus.
Tabel 9 : tanggapan responden terhadap pengaruh efektifitas kerja pegawai setelah mengikuti pelatihan dan khrsus tahun 2013.
No
Tanggapan responden
Jumlah
Presentase %
1
2
3
Berpengaruh
Sangat berpengaruh
Tidak berpengaruh
10
3
2
66,7
20
13,3

Jumlah
15
100
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun 2013
Dari data tabel 9 menunjujakan bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 10 orang responden atau sebesar 66,7 % menyatakan bahwa pengaruh efektifitas kerja pegawai yang telah mengikuti pelatiahn dan khrsus berpengaruh terhadap hasil kerja yang dilakukannya, selanjutnyaa sebanyak 3 orang responden atau sebesar 20 % mengatakan cukup berpengaruh, dan yang mengatakan yang tidak berpengaruh sebanyak 2 orang responden at sebesar 13,3 %.
Data tersebut diatas diperkuat dengan hasil wawancara penulis dengan Sekretaris Camat mengatakan bahwa pegawai yang mengikuti pelatihan umumnya berpengaruh terhadap efektifitas kerjannya. Hal ini terlihat jelas dari haisl tugas dan pekerjaan yang dilaksanakan dapat diselsaikan tepat pada waktunya. Bagi mereka yang telah mengikuti khursus komputer, dapat dengan mudah mengerjakan pekerjaan kantor yang berhubungan dengan ketik-mengetik sehingga mereka tidak lagi menggunakan jasa orang luar kantor. (Wawancara 9 Januari 2014)
Dengan demikian penulis menyimpulakan bahwa dengan adanya peningkatan kemampaun sumber daya manusia melalui pendidikan lanjut, pelatihan dan khursus yang telah dan yang akan dilaksanakan tidak hanya diperlukan untuk tugass-tugas sekarang, tetapi juga dalam rangka mengoptimalisasikan tugas-tugas yang akan dihadapi dimas datang, dalam rangka meningkatkan efektifitas kerja pegawai.
C. Efektifitas Kerja Pegawai
            Efektifitas kerja adalah suatu ukuran yang menanyakan beberapa jauh target (kuantitas, kualitas, dan waktu) yang telah dicapai. Dalam penelitian ini, pengukuran efektifitas kerja dapat dilihat dari tingkat ketelitian pegawai, tingkat pencapaian sasaran tugas bidang pelayanan administrasi, tingkat ketepatan waktu, dan tingkat penerapan disiplin kerja.
1.      Tingkat Keteletian Pegawai
Salah satu ukuran yang paling penting dari efektifitas kerja pegawai adalah ukuran tingkat ketelitian dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Yang dimaksud dengan ketelitian pegawai bekerja secara profesional sesuai job masing-masing
Dengan adanya ketelitian pegawai, memungkinkan bagi setiap pegawai untuk mencurahkan pemikiran, perhatian dan kemampuannya dalam menjalankan tugas-tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab.
Berikut ini disajikan data mengenai tanggapan responden mengenai tingkat ketelitian pegawai dalam menyelesaikan tugas-tugas kantor.
Tabel 10 : tanggapan responden tentang tingkat ketelitian pegawai dalam penyelesaian tugas-tugas kantor tahun 2013
No
Tanggapan responden
Jumlah
Presentase %
1
2
3
Baik
Cukup baik
Kurang baik
10
5
-
66,7
33,3
0

Jumlah
15
100
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun 2013
Dari data tabel 10 menunjukan bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 10 orang responden atau sebesar 66,7 % mengatakan bahwa tinggkat ketelitian pegawaidalam menyelesaikan tugas-tugas kantor sudah baik, sedangkan 5 orang responden atau sebesar 33,3% memngatakan cukup baik, dan yang mengatakan kuran baik tidak ada.
Data tersebut diperkuat dengan hasil wawancara penulis dengan Sekretaris Kecamatan yang mengatakan bahwa, pada umumnya pegawai Kecamatan Kadatua telah menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan teliti sesuai dengan prosedur kinerja yang berlaku dilingkungan Kantor Kecamatan .




2.      Tingkat Pecapaian Sasaran Tugas Bidang Pelayanan Administrasi
Penyelenggaraan tugas-tugas kantor khususnya dibidang pelayanan bidang administrasi nmerupakan faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton, karena merupakan kunci penentu kemajuan dan keberhasilan orgainisasi kantor.
Dengan adanya sasaran tugas bidang pelayanan administarsi memungkinkan para pegawai untuk mencapai target yang telah ditentukan, sehingga sasaran yang ingin dicapai dapat terlaksana dengan baik.
Secara umum ukuran optimalisasi pelayanan administrasi pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton, dalam mengjukan pertanyaan kepada responden adalah optimal, artinya pelayanan adminsitrasi yang diberikan sudah tepat, sedangkan cukup optimal artinya pelayanan adminstrasi yang diberikan kadang-kadang tepat dan kuran optimal artinya pelayanan diberikan kurang memuaskan dan tidak tepat waktu.
Berikut ini disajiakan mengenai tanggapan responden terhadap optimalisasi pencapaian sasaran tugas dibidang pelayanan adminstrasi kantor.




Tabel 11 : tanggapan responden mengenai optimalisasi pencapaian sasaran tugas bidang pelanyanan adminstrasi kantor 2013
No
Tanggapan Responden
Jumlah
Presentase %
1
2
3
Optimal
Cukup optimal
Kurang optimal
13
2
0
86,6
13,4
0

Jumlah
15
100
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun 2013
Dari tabel 11 menunjukan bahwa dari 15 orang responden, sebanyak 13 orang responden atau sebesar 86,6 % mengatakan bahwa tingkat optimalisasi pecapaian ssaran tugas pelayanan administrasi adalah optimal, selanjutnya sebanyak 2 orang responden atau sebesar 13,4 mengatakan cukup optimal, dan yang mengatakan kurang optimal tidak ada.
Data tersebut didukung dengan hasil wawancara dengan Sekretaris Camat Kadatua Kabupaten Buton yang mengatakan bahwa pencapaian sasaran tugas bidang pelayanan administrasi di Kantor kecamatan kadatua Kabupaten buton sudah terlaksanakan secara optimal, karena ditunjang dengan hasil pelaksanaan program tahunan kecamatan kadatua kabupaten buton yang dilaporkan oleh para pegawai setiap 3 bulan sekali.


3.      Tingkat Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu merupakan salah satu bagian yang diutamakan, karena sangat berpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan kantor utama pengaruh terhadap efektifitas kerja pegawai. Ketepatan waktu yang dimaksud adalah kemampuan pegawai menyelesaikaan tuags sesuai waktu yang ditetapkan sehingga tidaj tunggakan kerja. Sebagai kriteria tingkat ketepatan waktu pegawai dalam menyelesaikan tugas kantor yaitu tepat waktu artinya pekerjaan atau tugas kantor dapat selesai dengan waktu yang ditentukan, sedangkan kurang tepat waktu artinya pekerjaan atau tugas kantor masih belum dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan dan tidak tepat waktu artinya pekerjaan atau tugas kantor tidak dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Berikut ini tanggapan responden terhadap ketepatan waktu pegawai dalam menyelesaikan tugas kantor.
No
Tanggapan responden
Jumlah
Presentase %
1
2
3
Tepat waktu
Kurang tepat waktu
Tidak tepat waktu
9
4
2
60
26,7
13,3

Jumlah
15
100
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun 2013
Dari data tabel 12 menunjukan bahwa dari 15 orang responden sebanyak 9 orang responden atau sebesar 60 % mengatakan bahwa tingkat ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas kantor sudah tepat waktu, sedangkan sebanyak 4 orang responden atau sebesar 26,7 % mengatakan kurang tepat waktu, dan yang mengatakan tidak tepat waktu sebanyak 2 orang atau sebesar 13,3 % dengan demikian terlihat bahwa pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton tingkat ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas kantor sudah tepat waktu.
4.      Tingkat Penerapan Disiplin Kerja
Salah satu yang dilakukan oleh Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton dalam rangka mengembangkan pegawainya adalah dengan melakukan penerapan disiplin kerja, sehingga dapat mempengaruhi efektifitas kerja.
Oleh karena itu kantor kecamatan kadatua kabupaten buton menekankan penerapan disiplin kerja, khususnya dalam dua hal yaitu disiplin terhadap peraturan kedinasan yang berlaku dan disiplin terhadap perintah ataan, disiplin terhadap dua hal tersebut harus diwujudkan dalam sikap dan prilaku pegawai.
Sebagai kriteria tinkat penerapan disiplin kerja melalui kedisiplinan peraturan kedinasan dan perintah atasan yaitu telah terlaksana dengan baik artinya penerapan disiplin dipauthi senuhnya oleh pegawai, sedangkan belum terlaksana dengan baik artinya penerapan disiplin kerja masih kurang dipatuhi atau kadang-kadang dipatuhi, dan tidak tau artinya tidak mengetahui dan menghiraukan peraturan tentang penerapan disiplin kerja.


Tabel 13 : tanggapan responden mengenai tingkat penerapan disiplin kerja pegawai terhadap kedisiplinan peraturan kedinasan dan  perintah atasan.
No
Tanggapan responden
Jumlah
Presentase %
1
2
3
Telah terlaksana dengan baik
Belum terlaksana dengan baik
Tidak tau
12
3
-
80
20
-

Jumlah
15
100
Sumber : hasil olahan kuisioner tahun 2013
Dari tabel 13 menunjukan bahwa dari 15 orang responden sebanyak 12 orang responden atau sebesar 80 % mengatakan bahwa tingkat penerapan disiplin kerja pegawai terhadap peraturan kedinasan maupun perintah atasan telah terlaksan dengan baik, sedangkan 3 orang responden atau sebesar 20 % mengatakan belum terlaksana dengan baik, dan mengatakan tidak tau yaitu tidak ada. Dengan demikian terlihat bahwa pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton  tingkat penerapan disiplin kerja dalam menyelesaikan tugas kantor telah terlaksana dengan baik.
Hal ini juga didukung dengan wawancara Kepala Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton, yang mengatkan bahwa penerapan disiplin kerja telah dilaksanakan dengan baik oleh semua pegawai kecamatan kadatua tampa terkecuali, dengan selalu mengingatkan dan menegur pegawai yang lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya baik melalui peraturan kedinasan maupun perintah yang diberikan. (wawancara 9 januari 2013)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa efektifitas kerja pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton sebagian besar sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat ketelitian pegawai, tingkat ketepatan waktu, dan tingkat penerapan disiplin kerja yang telah dilaksanakan sepenuhnya oleh pegawai kecamatan kadatua.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Pada Kantor Kecamatan Kadatua
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton telah di buktikan dengan keikutsertaan pegawai dalam meningkatkan kemampuan dan keterampialn pegawai namun terlepas dari itu, peningkatan kemampuan sumber daya manusia juga tidak terlepas dari faktor-faktor pendukung dan penghambat, adalah sebagai berikut :
1.      Faktor pendukung
Adapun faktor pedukung dalam peningkatan sumber daya manusia pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton adalah sebagai berikut :
a.       Adanya kebijakan/inisiatif kepala kantor untuk mengikut sertakan pegawai mengikuti program peningkatan kemampuan sumber daya manusia lewat jalur pendidikan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan aefektifitas kerja pegawai.
b.      Adanya motivasi dan kemauan pegawai untukn meningkatkan dan mengembangkan kemampaun dan keterampilan melalui pendidikan, peltihan dan khursus.
c.       Dana anggaran peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang tersedia cukup memadai sehingga memungkinkan Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton untuk melakukann program peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
2.      Fakor penghambat
Sarana dan prasarana yang ada bila dilihat dari kuantitas sudah cukup memadai namun dari segi kualitas pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton, pada umumnya ingin agar kuantitas sarana dan prasarana yang ada untuk ditingkatkan, seperti prasarana gedung, pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton menginginkan rungan kerja diperluas.







BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang dilakukan oleh kantor kecamatan kadatu kabuparen buton telah berjalan dengan baik melalui pendidikan, pelatihan dan khursus keterampilan manajemen yang telah dilaksanakan sehingga membawa dampak positif terhadap efektifitas kerja pegawainya. Hal ini dikarenakan peningkatan kemampuan dan keterampilan pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua, hal ini tentunya akan menunjang efektifitas kerja pegawai. Efektifitas kerja pada Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton sebagian besar sudah baik. Hal ini t5ampak dari tingkat ketelitian pegawai, tingkat pencapaian sasaran tugas bidang administrasi, tingkat ketepatan waktu, dan tingkat penerapan disiplin kerja yang terlaksana dengan baik oleh pegawai pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton. Adapun faktor-faktor pendukung peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabuten Buton meliputi kebijaksanaan kepala kantor untuk mengikutsertakan pegawainya untuk mengikuti program peningkatan kemampuan sumber daya manusia, memotivasi pegawai mengikuti pendidikan, pelatihan, khursus, dan dana anggaran yang cukup memadai. Sedangkan faktor yang menghambat yakni mengenai sarana dan prasarana yang masih perluh dibenahi.
B.     Saran
Berdasarkan temuan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis menyarangkan diharapkann kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini Kepala Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton memberikan kesempatan kepada pegawainya untuk mengikuti peningkatan kemampuan sumber daya manusia khususnya pada pegawai yang belum mengikuti pengembangan sumber daya manusia dan diharapkan pada pengambil kebijakan untuk membina dan mengkoordinir para pegawainya secara baik, hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Diharapakan pegawai Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton harus lebih meningkatkan mutu kualitas pelayanan kerja, sehingga dapat terwujud tujuan dan sasaran organisasi kantor.

DAFTAR PUSTAKA

Arikuto, Suharsimi, 1998. Pposedurpenelitian : suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi IV. Jakarta : Rineka Cipta.
Atmosoepraptop, kisdarto, 2001. Produktifitas Budaya Perusahaan. Jakarta : PT Alex Media Komputindo.
Badan kepegawain Negara (BKN), 1999. Undang-undang RI Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Pokok-Pokok Kepegawaian. Jakarta.
Dahlan, M. Alwi, 1992, “Mencari Ukuran Kualitas Penduduk”, Dalam Sofian Effendi Dkk, Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu Social Dalam Pembangunan. Yogyakarta, Gadjah Maja University Press
Dwijonto, Rian Nugraha, 2003. Reinveiting pembanguna, Jakarta: PT Alex Media Komputindo
Etzioni, Amitai, 1985. Organisasi-organisasi modern, Jakarta, penerbit Universitas Indonesia Dan Pustaka Bradjaguna.
Gibson, James I, jhon M. Ivancevic dan Games H. Donnely Jr, 1996. Organisasi : perilaku, struktur, proses, Jilid I. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Handayaningrat, Soewarno, 1993. Pengantar Studi Ilmu Administrasi Negara. Jakarta: CV Haji Masagung.
Hidayat dan Sucherly, 1996. “Peningkatan Produktifitas Organisasi Dan Pegawai Negeri Sipil”, Majalah Prisma, Nomor II
Israel, Artuto, 1992.  Pengembangan Kelembagaan: Pengalaman Proyek-Proyek Bank Dunia, Jakarta, LP3ES.
Lim, Johanes,2002. Strategi Sukses Mengola Karir dan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Manullang, M. dan AMH Manulang, 2001. Manajemen Personalia, Yogyakarta: Gadjah University Press
Moekijat, 1989, evaluasi Latihan Bagi Pegawai Negeri, Bandung, Penerbit Sinar Baru.
Nitisimito, Alex S, 1992, Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta, Ghalia Indonesia.
Patty. F, Kasmiran Woerjo, Moh. Noor Syam, Wayan Ardhana, Indung Saleh, 1987. Pengantar Psikologi Umum. Surabaya : Usaha Nasional
Siagian, S.P, 1987. Pengembangan Sumber Daya Isani. Jakarta, PT. Gunung Agung.
Silalahi, T.B, 1998, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Jakarta CV Haji Masagung
Syarif, Rusli, 1991. Teknik manajemen latihan dan pembinaan. Bandung. PT. Angkasa
Swasono, Yudo, dan Ending Sulistyanibgsi, 1993, Metode Perencanaan Tenaga Kerja. Yogyakarta, Penerbit BPFE
Zainun, Buchari, 1992. Administrasi Dan Manajemen Kepegawaiam Pemerintah Indonesia. JakaIrta, Gedung Agung
Umar, Husen, 1999. Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. Jakarta, Gedung Agung
Tjondronegoro, Sedijo, 1994. Dua Abad Penguasa Tanah. Jakarta. Gramedia.

 
ABSTRAK
Mardin (C1A1 10 122) Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pegawai Pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton. Jurusan Ilmu Administarsi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik Universitas Halu Oleo dibimbing oleh Sartono, S.Sos, M.Si  selaku Pemimbing I dan Dra. Nurjannah, MA selaku Pembimbing II dengan permasalahan : (1) Bagaimana Upaya Peningkatan Kemapuan Sumber Daya Manusia Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kecamatan Kadatua. (2) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Upaya Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kantor Kecamatan Kadatua.
Penelitian ini bertujan untuk : (1) Mengetahui Bagaimana Upaya Peningkatan Kemapuan Sumber Daya Manusia Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kantor Kecamatan Kadatua kabupaten buton, dan (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan Kemampuan Sumber Daya Aparat Dalam Menunjang Efektifitas Kerja Pada Kantor Kecamatan kadatua kabupaten buton. Populasi balam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil Pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton yang berjumlah 15 orang. Oleh karena itu jumlah tersebut dapat dijangkau, maka keseluruhn populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 orang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Upaya Peningkatan Kemapuan Manuisa Pada Kantor Kecamatan Kadatua Kabupaten Buton dalam meningkatkan efeketifitas kerja telah berlangsung dengan baik, hal ini terlihat pada pemberian pendidikan lanjut kepada pegawai serta pelatihan khursus. Faktor yang mendukung upaya peningkatan  kemampuann kerja aparat adalah motivasi yang begitu tinggi dari pegawai, sedangkan faktor penghambat adalah terbatasnya kemampaun pendanaan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar